2 Puncakan dan 2 Telaga [Keliling Dieng]

2 Puncakan dan 2 Telaga [Keliling Dieng]

Rabu, 14 Mei 2014, Waktu menunjukan 11.30, siang yang cukup panas dan membosankan untuk hal yang selalu sama tiap hari dikerjakan, akhwat berhijab panjang terurai telah menunggu dipinggir jalan sana, “ah malas sekali” kata terlantun dalam hati sambil turun kantor dan mulai mengayuh teman hitam putih beroda menuju ntah kemana.

Memperlengkap peralatan di pembaringan bareng kang shaddam dan teh riri, lumayan buat perbekalan, dan kembali lagi ke kantor buat nyelesain kerjaan. bagai menghitung mundur saja, sampai jam setengah 5 pun akhirnya ijin pulang duluan dan dipembaringan semua pun sudah dipersiapkan buat keberangkatan,

Kang Shadam VS Boksi
Kang Shadam VS Boksi Persiapan Keberangkatan

terminal pun jadi tujuan, teh sintiana sudah menunggu sabar disana, teh riri hilang pulang dan entah kemana, pamitan pulang katanya, dan akhirnya “Sial, teramat sial”, wokeh bus jurusan wonosobo yang asalnya jadi tujuan terharkosi oleh ulah calo yang mengurusi perjalanan kami, dan akhirnya purbalinnga pun jadi pilihan transit untuk sampai tujuan, tak apa pengalaman, (pengalaman di tipu calo) oke sip #Prestasi.

rencana jam 7 kami berangkat akhirnya jam 9 malam lah kami baru berangkat, oke nambah lagi sialnya, tapi ceuk kang shaddam mah ulah ngeluh dengan hidup ini mah, da kita mah apa atuh mau menikmati pesona alam indonesia juga harus ditipu calo semena-mena gitu #ngasal.

berangkat lah kami ke purbalingga dulu, dan tetap janjian dengan gerombolan barudak cimahi (awal,tedi,sigit dan fakhri) yang berangkat dari ba’da magrib darisana, sudah terbayang, sudah mah lebih jauh terus lebih lama berangkatnya mungkin kita akan terlambat sampai disana. lelaplah kami tertidur pada hari itu dalam bus malam menuju provisi central jawa yang jadi tujuan.

Kamis, pagi hari, mungkin hari itu tanggal 15, dimana hari ini hari libur bersama para pekerja kantor yang terbilang “karagok” karena besoknya harus masuk sehari lagi sebelum sabtunya libur kembali, tapi berbeda dengan akhir pekan saya (kayaknya). Pagi itu mata saya terbangun dengan sedikit kantuknya, lihat kanan kiri orang masih terlelap dengan nyaman nya, menikmati sisa perjalanan purwokerto – purbalingga dengan melihat lewat jendela nan tertutup disana. Bus pun akhirnya sampai di terminal Purbalingga kami turun dan transit naik bus lagi ke terminal wonosobo tuk bertemu teman-teman yang sudah menunggu dari jam 5 pagi disana.

waktu menunjukan pukul 7 pagi, perkiraan bapak kondektur disana katanya jam 10 baru sampai terminal wonosobo, dasyat benar, setengah 9 saya menyarankan teman-teman tuk merapat duluan ke basecamp patak banteng, dan saat kesana mereka menyarankan menggunakan taksi kesana supaya langsung katanya, waktu benar saja menunjukan jam 10 lebih, akhirnya kami sampai juga di terminal wonosobo, beristirahat dan sekedar mengisi perut di warung pilihan yang jadi pusat perhatian disana.

Image
Warung Ibu Sri “Rezeki” Terminal Wonosobo

Pesan soto 2 Mangkuk dan daging ayam satu piring penuh kami bertiga makan sambil berbincang ria, dan ternyata sebelumnya si ibu bercerita anak-anak telah mengacau sebelumnya disini, okeh ternyata dimana-manapun mereka selalu, tarimakeun weh, wokeh #prestasi. Keberangkatan dari terminal wonosobo sebenarnya harus menggunakan 2 kendaraan lagi, yaitu naik angkutan ke arah wonosobo kota dan naik angkutan kembali arah dieng dengan kisaran harga mungkin 15 ribu perorangnya, tapi karena mungkin gak mau repotnya kami memilih menggunakan taksi menuju patak banteng disana dengan menggunakan argo kesana yang katanya biasanya bisa sampai harga 120 ribuan sampai tempat tujuan, setelah agak “ngiceupan” dikit supirnya bisa berangkat dengan bandrol harga taksi sampai basecamp patak banteng dengan harga 80 ribu sambil saat tujuan argo tetap dinyalakan.

Image
Taksi DNA Terminal Wonosobo

Bertiga kami menggunakan taksi ke tempat tujuan, lumayan indah dan bersih kota indah nan ramah ini, terminal nya pun tertata rapi dan tak terlihat calo terminal satupun disini, *dendam, hahaha. Menikmati perjalanan dan merasa terjakan dengan pemandangan kebun-kebun indahnya kami akhirnya sampai di basecamp Patak banteng, dimana teman-teman menunggu disana, kebetulan pas turun hujan sedang melanda, kami pun tergesa-gesa ke basecamp sana. dan saya masuk ke basecamp benar saja Fakhry dengan buff jualan yang dipake karena tak laku, sigit dengan celana pendek sambil pupurungkutan, tedi cekes bergoler ria dan awal dengan baju persib bari kabulusannya sedang marojok nungguin dalam basecamp. kami yang baru sampai datang dan menerjang pojokan disana sambil adulaksek rehat sambil cerita-cerita alasan telat diperjalanan (intinya mah biasa orang indonesia #ngaret).

Saya pun langsung registrasi pendaftaran untuk penanjakan dimulai, perorang dikenakan administrasi 4000 rupiah dibasecamp, sedikit menanyakan jalur dan saya pun mulai sedikit mengerti dengan track yang akan dilalui nanti, dengan kelilingan antara prau, dieng dan pesona alam lainnya. Oke mungkin waktu itu menunjukan jam 1 siang, bergegas lah kami bersiap, mesjid yang kami lewati jadi perpaduan sebentar tuk beribadah dan persiapan terakhir tuk berangkat, sedikit melingkar dan berdoa bersam prruuuung lah kami berjalan beriringan melalui gang rumah-rumah warga dan mulai menanjak melalui pematang kebun warga yang rapi indah dan menawan ini.

Jalur pematang kebun Patak banteng

“Nanjak gile jalannya” mungkin itu yang dirasa teman-teman saat melewati jalur ini, kata warga sama penjaga basecamp nya sih perjalanan sekitar 3 jam atau mungkin jika lebih santai bisa 4 jam,jadi kami gak berpikir dan berjalan lebih keras toh ntar juga sampai-sampai juga. tak ada jalan lurus yang ditemui, semua jalur konstan menanjak sampai diatas, bertemu dengan para pendaki banyak yang turun dan sedikit berbincang dengan keadaan disana, ada yang turun nyeker, ada yang bontang-banting bawa gitar, ada yang gogorowokan dikebon batur, dan lain-lain, “etdah itu orang kayaknya beda niatan ke gunung nya” hati bergumam sambil berjalan nunduk tak kuasa liat tanjakan.

Setengah jam pun mungkin tak terasa, ayi pun jol-jol ngagudubrag lelah katanya, qoute “mungkin dia lelah” ternyata benar adanya dipakai di si ayi dan terpaksa, saya yang dari awal berangkat berjalan paling belakang pun harus menunggu dan merayu supaya mau berjalan lagi, sambil menunggu jepret sana-sini liat jalan sama pemandangan kebun warga disana.

IMG_20140515_141501_0
View ke telaga warna dari jalur pendakian

Tak lama pun tanjakan dilalui kembali, sedikit menyapa ke teman pendaki lainnya yang mulai turun, awal,tedi dan sigit yang sejak awal jauh meninggalkan terlihat sedang duduk santai menunggu rombongan saya, tuk sekedar mengejar saya berlari di tanjakannya, dan tiba-tiba dari belakang kejauhan kang shaddam terkeram ria kakinya, sejenak meredakan otot nya pun kami berhenti, dan ternyata POS 3 pun sudah sampai disana, paling hanya beberapa menit kami melanjutkannya lagi, kang shaddam yang tak mau ditawari bertukar carier yang lebih ringan ini terus melaju walau sekarang paling belakang tertinggal.

Jurang di kanan jadi pemandangan gunung menjulang disana, dan tak sadar kami pun sampai di camp area gunung prau, terhitung waktu di jam tangan saya sekitar 2 jam kami berjalan, lebih cepat dari waktu perkiraan mungkin, walau ayi dan kang shaddam jadi korban jalan yang tak ada istirahatnya sekalipun. rehat bersitirahat dan akhirnya sampai ditargetan pertama untuk hari ini di camp area yang sudah ditentukan.

IMG_20140515_151134_0
Menuju Camp area Gunung Prau
IMG_20140515_152502_0
Camp area Gunung Prau

sepi benar, indah benar disini, ternyata benar para pendaki lainnya sudah turun, terhitung mungkin hanya ada 3 tenda saat itu, satu, dan ditambah kami mungkin, cari spot yang pas dan mulai mendirikan bangunan perpaduan. angin lumayan kencang disana, menempatkan spot yang strategis jadi pilihan biar enak saat menikmati malam nanti pastinya.

bangunan oranye dengan merk distro terkenal sudah terbangun disana, semua mempersiapkan diri tuk menikmati malam, beribadah ashar dan mulai memasak santapan sore itu. Malam harinya bintang mulai bertebaran dan para pendaki pun mulai bermunculan, yang asalnya hanya beberapa tenda dengan kesunyiannya, sekarang berubah jadi banyak tenda dan kegaduhannya, gitar teralunkan menghentak sunyinya malam, suara indah mereka mengiringi malam indah kami, yang asalnya sunyi sepi sekarang ramai tak dapat dimengerti, ah sudah, itu sudah biasa.

saat semua bergantian dalam sembahyangnya, saya membangun sebuah perapian dalam himpitan tenda disana, hangat nan dingin tercampur di tenda kami, uno sebelum tidur dan terlelaplah kami tertidur karena cape nya mungkin, biar udara dingin diluar sana kami rasakan lain kali saja.

pagi buta alarm kami saling berlomba paling pagi membangunkan, mata kami terkantuk-kantuk bangun dan sembahyang shubuh, orang-orang sudah berlomba saling mengejar sunrise disana, dan mungkin adapun yang sedang terlelap tidur disana. dokumentasi pagi hari setelah matahari naik disana.

IMG_0249
Pemandangan dari Prau pagi hari

Jum’at, 16 Mei, saya sadar ini hari kerja dan saya harus ada dikator seharusnya sekarang, tapi (ahsudahlah), jam menunjukan setengah 9 disana, kami mengepak semua perbekalan kami kembali dan bersiap turun melalui jalur dieng, patokan kami menara repeater yang menjulang tinggi disana, dan mengejar ibadah jum’at di desa terdekat saat kami turun.

Perjalanan menuju dieng lebih indah dari tanjakan yang awalnya kami rasakan saat naik, jalannya landai, pemandangan bukit teletubis menghampar dikelilingi dengan bunga daisy, jurang indah kanan dan kiri saat merapat ke menara repeater nya, mungkin berikut sedikit dari dokumentasi diperjalanan :

IMG_20140516_092738_0
Deretan bukit berpundak diperjalanan
IMG_20140516_092934_0
Bermekaran bunga daisy di perbukitan teletubis gunung Prau
IMG_20140516_095209_0
Jalur Punggungan menuju menara repeater

tak dirasa jam merujuk hampir pada puncak jam tangan, waktu ibadah jum’at pun semakin datang, kami mempercepat langkah dan akhirnya sekitar pukul jam 11 kami sampai di daerah desa dieng plateau, kami beribadah disana dan merapikan badan, perbekalan dan lain-lain disini, dan sekedar rehat dan meluruskan kaki yang tak kunjung henti berjalan tadi.

IMG_20140516_113359_0
Mesjid Dieng tempat kami ibadah

Tak sampai disini, sesuai perencanaan sebelumnya kami akan lanjut ke bukit sikunir tuk lihat golden sunrise nya, katanya bagus, saat kami bersiap-siap untuk perjalanan berikutnya,tetapi bak diditabrak toronton mogok, ayi dari kejauhan nyeletuk sekenanya “feb, jigahna urang moal kuat deui euy, moal ngilu nya, paling nuggu we dihandap jigahna” translated “feb, kayaknya saya gak akan kuat lagi, gak akan ikut ya, paling saya nunggu dibawah ya kayaknya” translate.google.com ke inggris “feb, I think I am not going strong again, will not participate yes, most of my waiting below yes I think” <– ngaco.

dengan kerlip mata dan rayuan maut, akhirnya ayi mau melanjutkan perjalanan dan tak jadi pulang sendirian,wkwkwk. “payah benar” makanya dengerin ceuk #BoksiStory ath,

“Orang kuat disana sudah banyak , orang yang yang kalah karena menyerah apalagi, maka anggaplah kamu jadi orang yang mau mencoba, disaat kalah anggap kamu sebagai orang yang mengalah, karena kalah sesudah mencoba lebih ternilai daripada kamu menyerah sebelum dapat hasilnya, dan percayalah kamu akan menang dengan caramu sendiri – Boksi Suryani” #BoksiStory 

Setelah berbelanja dan mengetes cacamarica (dibaca “Carica”) disana, kami berjalan sambil menanyakan arah sikunir disana, rumor katanya 8KM jarak kami dan desa sikunir disana, tak ada angkutan, terpaksa kami berjalan melewati jalan kesana, tapi kali ini tak sial, banyak yang kami temukan di perjalanan, dari jalan menuju telaga warna, dieng plateau teater, candi arjuna, dll. Mungkin sekitar satu jam lebih kami berjalan sampai kami di depan gerbang desa Sambungan, desa yang masih asri dan dikelilingi bukit-bukit tinggi menjulang dan sebuah telaga disana, begitulah kami bertemu dengan mereka disana,

https://www.youtube.com/watch?v=GRD389f-QEo

927670_306770119479466_475318073_n
Anak-anak sembungan, telaga cebong
IMG_20140516_150223_0
Telaga Cebong

sambil menikmati telaga cembong kami bermain sama mereka, yang katanya mau mengaji sore tapi karena ketemu kami mereka sedikit berkunjung dan main, main bersama kami. tak terasa waktu menunjukan pukul 15.30 waktu itu, kami pun diantar teman-teman kecil kami menuju masjid besar nan megah disana, dengan 3 lantai dan enak sekali tuk disinggahi beribadah disana, lama kelamaan udara pun mulai terasa dingin disini, lalu sambil persiapan kami berjalan kembali ke bukit sikunir, lumayan berjalan setengah jam lebih mungkin sampai dipuncakan disana. Kabut mengitari disana, tak terlihat apapun 5 meter ke depan, kami berjalan dengan kang shaddam memimpin di depan, dan sampai lah kami dipuncak sana, bertemu hanya ada 2 tenda disana, kabut semakin menutup jarak pandang kami, lalu berkemah lah kami disana, dan lumayan enak benar disana.

IMG_20140516_162322_0
Sikunir background telaga cebong
IMG_20140516_171309_0
View Sunset Sikunir

Sekedar mendirikan tenda dan mulai persiapan menikmati malam, tapi herannya teman-teman disini terasa lebih dingin katanya, ayi pun yang emang dari awal sudah mengeluh tumbeng duluan dalam tenda tak berani keluar karena lelahnya, sang perkasa kang shaddam pun setelah sembahyang magrib tak berani keluar tenda hanya dalam tenda dengan qur’an dan dengan rutinitas 1 hari 1 juz nya. saya membantu menghangatkan tenda dengan sedikit mengumpulkan ranting-ranting kecil dan membuat penghangat ruangan minimal dengan api unggun malam hari itu, intinya malam hari itu kami terlelap lebih cepat dari biasanya karena mungkin lelahnya perjalanan kesini.

Dan ternyata benar saja, malam sepi berubah jadi malam yang ramai dan cukup meriah waktu itu, para pendaki malam mulai berdatangan tak lain dan tak bukan hanya mengejar golden sunrise sikunir yang terkenal itu. yang awalnya hanya 5 tenda yang berisi beberapa orang kini sudah tak terhitung jumlahnya, puncak ini meriah dan sungguh ramai seperti biasanya.

sabtu, 17 Mei saya terbangun di pagi yang masih terhitung buta, orang-orang masih berdatangan dan meramaikan sisi-sisi tenda kami, ada pula yang ikut bersenandung tunduk di peribadahan dadakan yang kami bangun dengan alas ponco yang kami bawa itu, waktu sudah menunjukan pukul 05.30 mungkin, tapi kabut masih belum hilang disana, masih menutupi puncakan dan mengelilingi kami yang ada di dalam dengan udara dinginnya. Lalu tak lama berselang saya dengan kang shaddam memulai dengan menghampiri pos puncak sikunir duluan kami berjalan berderet mendekati pos dalam kabut, masih dengan sarung mengikat pinggang, dan lama-kelamaan pun sunrise yang dirindukan menampakan diri, masih dengan pemandangan Gunung Sindoro dan Sumbing nya menambah hiasan paagi hari itu disusul dengan teman kami yang lain berdatangan untuk merasakan keindahannya, semua berdecak kagum, ramai dan meriah seperti apa yang diharapkan datang dan terlaksana.

IMG_20140517_053118_0
View Sunrise beserta kabut Cikunir di kejauhan
IMG_20140517_055225_0
Golden Sunrise Cikunir

Indah nian ciptaan-Nya, mungkin hasil dokumentasi tak sesuai indah dari yang sebenarnya ada disana, mungkin bisa lebih indah dan lebih menakjubkan bila hanya diceritakan oleh kata-kata. layak hal nya yang tak mau kehilangan event berharga ini kami sibuk berpoto ria dipemandangan dan keindahan ini, semua orang pun sama dan ramai disini :

IMG_20140517_060418_0
Keramaian Sikunir

Dari awal berangkat kami berencana untuk langsung turun ke Patak Banteng, tapi sayang beribu sayang kami tak tau jalan dan saat menanyakan pun katanya lebih baik pulang dengan jalur yang sama kembali, dan akhirnya menjelang siang kami berjalan lagi melewati jalur yang sama dan targetan untuk beristirahat di Mesjid yang waktu itu tea kami ibadah jum’at. Dan lumayan udah mah jalan nya jauh panas pun tak terhindari di perjalanan, dan untuk menghilangkan kegalauan dan bosan diperjalanan pun tedi memutar lagu disetiap perjalanan tuk menghibur, lumayan bisa meramaikan susana, eh suana maksudnya.

dan diperjalanan pun HP jatuh beberapa kali, mungkin minta diganti dan alhasil HP mamang boksi jadi gantinya, karena playlist nya kebetulan semua musik regae sudahlah akhirnya dari perjalanan desa sembungan tak terasa terasa teralun menari mengikuti lagu, partner kang shaddam pun jadi batur gegeloan dijalan, mumpung gak ada yang kenal #prestasi. lama-kelamaan akhirnya Talaga warna pun sampai, awal dan sigit yang jalan duluan sedang terduduk hinyai menunggu kami disana, kami pun bergabung dan merapat bersamaan, sedikit istirahat dan jajan-jajan sedikit disana. Awalnya kami tak akan masuk telaga warna, tapi tedi mengusulkan masuk dulu karena sayang kapan lagi kesini lagi katanya, dengan tiket 2000/perorang kami masuk dan sungguh indah nian telaga warna, air biru semua kehijauan, udah dingin berhembus meniup rerumputan dan lumayan jadi tempat istirahat tuk memanjakan perjalanan, bisa disebut ini telaga kedua setelah kami melewati 2 puncakan.

IMG_20140517_101232_0
Tiket Masuk Telaga Warna
IMG_20140517_103026_0
Telaga Warna 1
IMG_20140517_102358_0
Telaga Warna (biru ke hijau-hijauan)

sambil beristirahat dan perjanjian buat maju jalan kembali disini kami serempak setuju 1 jam sudah berangkat lagi, jadi semua ingin berkeliling dulu mengelilingi telaga warna tuk sekedar jalan-jalan, saya, fakhry dan kang shaddam menunggu tas dan makan jagung bakar sembari menghangatkan diri katirisan sama angin yang uwes-uwessan berhembus, #ngaaaco. 1 jam lewat mereka belum terlihat kembali, oke untung saya masih menganut kepercayaan “bukan orang indonesia kalo tidak ngaret”, mudah-mudahan kepercayaan itu hilang secepetanya #asese. dan setelahnya tak lama berselang awal pun datang diikuti teman-teman lainnya dan bercerita katanya bertemu dengan orang yang naek ke telaga warna dari patak banteng sehingga kami bisa langsung ke patak banteng tanpa ke mesjid dieng nan jauh disana, wokeh semangat saya berkobar kembali supaya cepet pulang,hohoho.

kami kemudian berkemas dan pulang, tenyata benar saja kami sampai di basecamp tempat awal kami mendaki Puncakan awal gunung prau, ternyata terkelilingi juga dieng disana, walau curug dan candi indah disana mudah-mudahan bisa tertengak suatu esok hari disana.

Saat dipersimpangan jalan dan menyebrang mini bus dieng pun sudah menunggu, karena ngebet pengen segera pulang kami tak pikir panjang dan naik menuju wonosobo kota supaya sampai terminal, bayar perorang 10ribu/orang. dan saat sampai wonosoba kota kami turun pun si emang-emang mikro bus lainnya menyambut kami, carier saya yang paling besar pun beliau angkat dengan semangatnya dan memasukan semua perlengkapan kami dengan ramahnya meminta ongkos bayaran 2000/orang, murah nian dan cukup jauh pula bila kami berjalan. Dan lagi dan lagi semua tersenyum melihat ayi beruntung nian selalu bersebelahan dengan teteh jawa berparas cantik berkerudung dan manis (ditegaskan,bukan sirik).

Singkat cerita kami sampai di terminal wonosobo sana, dan warung bu sri jadi perpaduan kami tuk singgah, makan, bersih-bersih dan bersistirahat, setelah semua sudah saya dan kang shaddam mencari tiket pulang dan dapat bus Dieng Indah menuju lebak bulus dengan harga 100ribu/orang.

IMG_20140517_143047_0
Tikes Bus malam Dieng Indah

nah, ada hal yang menarik dalam bus pula, kami bertiga dengan kang shaddam dan teh sinti, saat penumpang masih sepi-sepinya ada ibu berparakan ibu nya para ibu memasuki bus yang sedang kami naiki, dengan keramadhan menjajakan dagangan banyaknya dengan gembolan besarnya ibu ini membuat kami jadi tak ingin meninggalkan kota yang ramah ini, kami mencari barang-barang yang sebenarnya tak terlalu kami perlukan, membeli dagangan si ibu dan terjadi perbincangan mungkin kurang lebih seperti ini :

IMG_20140517_161237_0
Ibu penjual makanan di bus

ibu : beli mas, gorengannya, tisu,tolak angin,air mas,
kami : ada tolak angin nya bu ?
ibu : oh ada mas, yang cair sama yang permennya ini 5000 mas,
kami : sama gorengannya berapa bu ?
ibu : 1000 mas,
kami : yaudah beli 5 aja bu, (kalo gak salah)
ibu : (sambil membungkusi dagangan) udah dari dieng ya mas ?
kami : iya mbu, indah banget disana,
ibu : ini mas gorengannya (sambil menyodorkan), kapan-kapan kesini lagi toh mas, jangan lupa beli dagangan ibu lagi ya, (tertawa renyah)
kami : oh iya bu, sok ath mudah-mudahan dagangannya laku ya bu,
ibu : iya makasih mas,

saya lupa lagi percakapan apa yang kami bicarakan di bus waktu itu, pokoknya mungkin kurang lebih seperti itu dan serasa di perlakukan seperti tamu special di kota indah nan ramah itu.

waktu itu pula kami berangkat menuju lebak bulus dan sampai pagi harinya, teh sinti langsung berpisah menuju kost’an, saya dan kang shaddam melipir ke mesjid dan kebingungan mencari teh sinti hilang tak tau arah dan tak tau arah jalan pulang, iyah mungkin dia butiran debu. sampai juga di pembaringan bersih-bersih badan dan membersihkan peralatan mau pun yang dipinjam ataupun yang punya sendiri, akhirnya selesai sudah perjalanan saya waktu ini indah nian dan mungkin bila ada waktu dan allah mengijinkan biar saya mengulanginya lagi.

Mungkin kesimpulan track angkutan-pembayaran perjalan yang saya lalui :
Lebak Bulus – Purbalingga : Bus Murni Jaya Rp. 110.000/Orang (Harga Calo) Harga Asli 75.000 “11 Jam”
Purbalingga – Terminal Wonosobo : Bus Rp. 20.000/Orang “3 Jam”
Terminal Wonosobo – Patak Banteng : Taksi DNA 80.000 Sekali Jalan (Hasil Nawar)
Masuk Pendakian Prau Patak Banteng 4000/orang
Masuk Telaga Cebong 4000/orang (katanya)
Masuk Sikunir (Bayar Juga Katanya)
Patak Banteng – Wonosobo Kota : Mikro Bus Rp. 10.000/Orang
Wonosobo Kota – Terminal Wonosobo Rp.2000/Orang
Terminal Wonosobo – Lebak Bulus : Bus Dieng Indah Rp. 100.000/Orang

Mungkin untuk akses dari cimahi atau dari Bandung bisa menanyakan keteman saya Awal, Fakhry, Sigit, Tedi, kalau gak terlalu perlu pun minimal hubungi aja salah satunya itung-itung modus kenalan atau PDKTAN kan, lumayan pada jomblo akut Cimahi, diobral tak laku, dikasih cuma-cuma gak ada yang mau nerima.

10362165_284715005043021_163135221_n
Armada Keliling Dieng

Jakarta, 19 – 22 Mei 2014
#BoksiStory
Cerita Perantauan Nan Jauh Disana

mm
Written by
Boksi Suryani
Join the discussion

Boksi Suryani

⛰️ 6°46’36.5″S 107°35’02.9″E
✍️ Author #BoksiStory
👥 Co-Founder @cleo.outdoor
👣 Owner @lnx.gear