Antara Papandayan, naik gunung dan ta’aruf

Antara Papandayan, naik gunung dan ta’aruf

Riuh gemeruh penumpang membangunkanku kala itu, saat kulihat jam tak terasa pukul 3 pagi sudah menjelang, terasa baru saja kemarin aku ketempat seperti ini lagi, dimana tuan-tuan bertas serba panjang dan besar ditemani para nyonya mencari angkutan tuk menuju tempat perpaduan sepi,indah dan menentramkan (katanya), berjalan seorang diri setelah kemarin masih berkutat di sudut penjuru ibukota dengan sintaks dan konfigruasi program sistem operasi yang kadang bikin *ekhem dan mungkin ini obat yang cocok tiap minggu.

Janjian dengan teman kecil dulu yang sampai sekarang badannya gak besar-besar beserta kelompoknya dari bandung, sama mamang ridwan yang setia diajak ripuh kapanpun dan dimanapun. Pukul 4 pagi surau dekat terminal pun jadi tempat istirahat pertama sambil sembahyang dan mempersiapkan yang lainnya, dan tak sedikit pendaki lainnya yang juga sudah disana, bahkan senior stm pun ada, sedikit berbincang dan menunggu matahari menjelang sebelum keberangkatan.

Pagi
Menjelang pagi diawal kisah

Akhirnya matahari pun menampakan diri, sarapan dan kopi hangat kala itu begitu nikmat sambil ditemani ibu warung sambil modus, *gila tante-tante. lanjut menuju cisurupan saya bareng dengan rombongan dari jakarta juga 7, banyak mengobrol dan akrab lah kita kala itu, dicisurupan kami berpisah mereka lanjut ke camp david duluan dan saya pergi berbelanja dahulu di pasar cisurupan, masih saja seorang diri dan setelah belanja selesai lanjut lagi ke camp david, jam 9 lebih mungkin saya sudah sampai, menunggu rombongan bandung sampai jam 10 ya lumayan lah gak sampai menghabiskan nasi goreng sampe 3 piring mah.

rombongan bandung pun sampai, sambil berkenalan dan menunggu mamang ridwan yang salah angkot, akhirnya setelah sembahyang dhuzur telah dilaksanakan rombongan saya suruh naik duluan,karena rombongan kita ditambah sama trio purwakarta wong jawa yaitu bang jupe, bang ardi, dan bang saiful yang setia dan berbaik hati mau bareng dengan rombongan kita, dan saya sama simungil dewi  ntar menyusul sambil  menunggu mamang ridwan yang sudah kenyang keliling naik angkot garut *efek salah naik angkot.  Mamang ridwan pun datang dan langsung berjalan menyusul yang lain naik pelan-pelan karena nyantainya.

10393937_969613836385713_6533657898834216954_n
poto bareng dicamp david

Dewi, ridwan dan saya berjalan menyusul, berbaris saling beriringan pelan tapi pasti tapi asa teu nepi-nepi kami berjalan, dan terasa lama karena banyak popotoan, alah teu kaop pisan -_-“

10384528_969615139718916_6741044695963734484_n
Kawah papandyan

Beberapa puluh menit kemudian (waktu disamarkan dari jam ke menit biar gak kelihatan lama) akhirnya sampai ke pos 2, disana teman-teman sudah menunggu duduk manis, ngahuleng sambil panyarande-nyarande, disinilah mungkin awal banyak ngobrol sama temen-temen baru sambil jajan baso ikan papandayan.

Camp saat itu pondok saladah yang jadi pilihan, walau saya terbiasa di gooberhoot karena sepi dan tidak seramai disana, berjalan lagi beberapa menit dan sampai di pondok saladah, agak terlihat sedikit ramai walau tak seramai 1 muharram lalu saat saya  kesana. Awalnya sedikit kebingungan menentukan tempat membuat tenda karena saking ramainya dan akhirnya fix membuat tenda di dataran atas pondok saladah.

2 tenda dome dan 1 villa kala itu sudah kami pasang, beres-beres dan persiapan untuk menikmati malam, kopi hangat bang ardi terasa nikmat kala itu, sambil ditemani candaan neneng haida, akhwat cikarang nu sok saceplos2na. saking banyaknya candaan mereka kala itu saya sampai tak ingat apa yang kita candakan kala itu, ternyata mereka lebih asik daripada yang saya bayangkan awalnya, dan bang ardi,syaiful dan bang jupe pun untuk 3 orang makanan yang mereka bawa terasa lebih sejahtera daripada yang kami bawa.

Dan malamnya api unggun mulai dinyalakan, seksi penyuluhan mamang ridwan dan bang syaiful mulai beraksi depan perapian, sambil ditemani suruput kopi semua bergantian ngala suluh dan meniup api unggun, untuk menghilangkan kebosanan akhirnya kartu remi pun dikeluarkan permainan basecamp pun saya sebar disini, dan awal kisah itu sampai sekarang kategori artis yang dipilih bang jupe sama bang didi kempot bang syaiful masih menempel sampai sekarang.

Permainan kami stop kala itu, teteh akhwat sudah masak sebelumnya dan kami pun makan, dari ari saya mah nyaho na makan wungkul, jadi santap malam kami bersama-sama, walau tak ada dagingnya, spageti nya, dan makanan indah lainnya tapi karena kebersamaan terasa enaknya *anggeur we hoyong daging

1622750_969622753051488_4326564109293513918_n
Makan malam

Sesi Ta’aruf

Tak tau siapa yang memulainya, tapi tiba-tiba ada yang mencetuskan untuk kenalan lebih jauh semua personil kala itu, 15 orang berkumpul depan tenda dan lampu ditengahnya dan memperkenalkan diri satu sama lain, dimana antara asri sama aa jupe makin ekhem ekhem aja, antara mamang ridwan sama kopi haneut dan tempat siduru nya, dan yang lain sambil depan tenda berbincang canda dan saling curhat tentang pendakiannya.

tak lama pun mata pun mengikuti lelahnya tubuh yang seharian mendaki di hari itu, tertidur lelaplah kala itu, ijin duluan ke kang ardi dan yang lain saya dan mamang ridwan tidur dalam tenda oranye dan pelukan Slepping bag dengan mimpi bidadari tidur yang menghinggap di pembaringan kala itu.

Menurut jadwal jam setengah 5 mungkin kita harus segera merapat ke hutan mati, tapi apa daya dinginnya agak ngadodoho pagi kala itu, setelah sembahyang tetap saja pukul 6 kami baru naik. Sesampainnya di hutan mati tak tau berapa puluh poto yang akhwat-akhwat centil popotoan kala itu, kang ardi hanya gudag-gideg teu habis pikir lama menunggu mereka untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Jpeg
Kang ardi menang banyak

Dari hutan mati mungkin sekitar satu jam kami naik sampai tegal alun, sedikit lama dan agak menguras tenaga, hati dan sekuat jiwa raga tapi kami tetap menapakinya *lebay.

Sampailah kami di tegal alun kala itu, memang terlihat sedikit ramai kala itu, yang sedang poto-poto, sedang duduk manis, sedang makan dan ngemil dan lain-lain, dan karena emang akhwat nya teu kaopan popotoan euh, pas sampai buka kamera poto sana, poto sini, euh

Jpeg
Akhwat Rempong Papandayan

Sementara kang ardi mengambil air dan memasak kami sibuk sendiri gutak-gituk itu ieu, mang ridwan dan saya menyusul memasak dan masih asik poto-poto kadang sambil menikmati pemandangan yang terhampar luas kala itu, dan dengan kata “aa ardi minta dong” saya rasa gank akhwat UIN ini semua kenyang menikmati pasakan chef ardi ini, wakakakakak.

Tegal Alun
Tegal Alun

Siang mulai menjelang dan kami pun turun menuju kembali dimana tenda kami berada, beriringan macet dengan rombongan lainnya kami berjalan turun melewati hutan-hutan kecil menutupi jalan setapak yang kami pakai berjalan.

Telenovela 1
Sebelum kami melaju ke tempat tenda kami berada kami menyempatkan untuk berpoto-poto ria dahulu di ujung hutan mati yang mendekati sawah, dan ketika yang lain sedang aksik berpoto ria, si adit sedang sibuk nyusun batu dan tutulisan, sementara saya sedang asyik jajan baso ikan tiba-tiba dewi terkulai lemas dan jatuh di tanah, semua kaget dan memanggil saya dari kejauhan, saya menghampiri dan kami memindahkan dewi ke tempat yang agak teduh kala itu, masih tertutup mata nya dan terbaring di pangkuan teteh agil kala itu sambil membayangkan jika saya di posisi itu (*eh ngawur) kami mencoba mensadarkan dengan bebauan menyengat dan sedikit tabokan teteh agil yang penuh kasih sayang dan menjelepak pipi, akhirnya dewi pun terbangun dan memeluk agil kala itu, andai saya yang dipeluk nya yah (*eh ngawur deui) dan akhirnya telenovela pun diakhiri dengan pelukan dan baso ikan yang saya habiskan.

Jpeg
Dewi rapopo

Memang kadang energi yang kita keluarkan tak sama dengan asupan energi yang kita masukan, jadi lain kali makan sama management enegeri dari asupan dan lain-lain harus dirasa cukup sebelum mendaki.

Setelah turun melewati hutan mati akhirnya kami pun sampai di tenda kami, membereskan semua nya dan memasukan kembali pada tas, dan siangnya kami pun turun, beriringan bersama-sama kami pun turun, sambil memperhatikan yang lain ditakutkan kejadian nya terulang saya turun kadang di depan kadang paling belakang, sampai tiba di camp david kala itu, ditutup dengan nasi goreng sembahyang dzuhur kami tuntaskan perjalanan ini dan kembali ke rumah masing-masing.

Berpisah di cisurupan dengan rombongan UIN dan rombongan purwakarta di terminal guntur, dengan bus primajasa arah cililitan merapat ke sudut penjuru ibukota bersiap berkutat di meja perantauan dengan konfigurasi dan console kembali, ditutup dengan tertutupnya mata tengah malam itu, tercipta sudah cerita, tercipta sudah persahabatan baru, dan semua tercipta karena tak sengaja bersama, Terima Kasih atas berbagi ceritanya.

TITLE : Antara papandayang, naik gunung, dan ta’aruf
MEMBER : Febi, Ridwan, Dewi, Asri, Ika, Haida, Cunengsih, Agil, Bella, Depin, Bang ardi, Bang Jupe, dan Bang Syaiful.

mm
Written by
Boksi Suryani
Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Boksi Suryani

⛰️ 6°46’36.5″S 107°35’02.9″E
✍️ Author #BoksiStory
👥 Co-Founder @cleo.outdoor
👣 Owner @lnx.gear