Bila Bidadari Mengerti

Bila Bidadari Mengerti

Suatu ketika ada sedikit obrolan dan bercengkrama dengan salah satu akhwat tentang pengalaman hidup diluar kota, mereka serasa berbeda dengan keadaannya dirumahnya sendiri dan di perantauan hidup dalam kedewasaan.

Kadang mereka ragu, ditawari kerja tiada teman yang menemani tak mau, bersosialisasi dengan warga sekitar kadang takut dan serba salah, mungkin balik lagi ke orangnya sendiri seperti apa dan bagaimana, tak salah lagi, tingkah laku salah satu faktor yang mempengaruhinya ialah lingkungan. Yang biasa pendiem jadi jingkrak-jingkrakan tak karuan, yang rajin jadi serba malas, bahkan yang rajin solatnya dan bisa dibilang taat bisa terjerumus ke lubang maksiatan. (Naudzubillah).

Bukannya islam relevan dimanapun dan sampai kapanpun, jadi ajaran-ajarannya memuat unsure yang tidak lekang dimakan zaman. Saying benar bila imannya berubah saat dia mempunyai tempat tinggal yang berubah ataupun berpindah, sunat-sunatnya yang biasa sering dilakukan sering ketinggalan alasannya gak ada waktu, sibuk. Dan yang lebih parahnya dan fatal mungkin auratnya sedikit demi sedikit terbuka, alasannya tak lain tak bukan, mode tren masa kini lah, panas karena tinggal di kota lah, atau mungkin karena *ekhem imannya turun.

Apakah akwat yang suka memakai pakaian terbuka itu baik-baik ? (bisa jadi). Terus apakah akhwat yang menggunakan hijab itu ada yang tidak baik ? (bisa jadi juga). Tapi apakah bisa dibayangkan bila akhwat yang terbuka dan sudah baik menggunakan hijab mungkin bisa lebih baik lagi, dan apabila akhwat yang memakai kerudung kurang baik, apalagi dia tidak pakai mungkin bisa lebih amburadul lagi, (jangan sampai).

Membiarkan aurat terbuka berarti mengesankan diri membiarkan para lelaki seperti saya boleh mengganggu, baik itu perkataan apalagi itu perbuatan. Seringkali akhwat sholeh disana membela kaumnya dengan berkata bahwa itu hanya lelaki nya yang mata keranjang, dan kami aku itu benar adanya, tapi tak maukah kalian membantu kami untuk menyembunyikannya ?

“Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan terhadap apa yang mereka inginkan, berupa perempuan-perempuan….” (Q.S Ali-Imran:14)
“semua wanita muslimah adalah ratu dimanapun ia berada, dan seorang bidadari pengisi hati bagi pasangannya (yang telah halal)”

Tidak semua orang boleh melihatnya dan menyentuhnya, semuanya kembali pada satu pertanyaan :
“KITA INI SEBENARNYA KURANG AKAL DAN KURANG AGAMA ATAU PUNYA AKAL DAN TAK PUNYA AGAMA ATAU JUGA KITA PUNYA AKAL,PUNYA AGAMA, TAPI TAK MENGAMALKANNYA ?”
Sebenarnya jika memakai perasaan, tentunya pernyataan bahwa “berhijab itu mengekang dan merendahkan harkat dan martabat wanita” itu adalah pernyataan yang masuk diakal.  Tapi andai mereka (wanita) tahu bahwa tidak semua hal dalam agama ini dapat dimengerti oleh perasaan,dan tidak semua hal dapat dijangkau oleh logika, karenanya memainkan logika dan perasaan harus seimbang adanya.

Tidak susah untuk syar’i, tidak sulit untuk syar’i, dan tidak rugi kalau kita untuk menjadi lebih baik lagi, yakinlah dari sekarang, longgarkan pakaianmu, tutupi lekuk tubuh indahmu, pakai kaus kakimu, panjang dan lebarkan kerudung kesukaanmu, tak terlihat modis depan manusia, tapi modis hadapan Allah.

Inspirasi : http://m.facebook.com/notes/sandy-legia/hijab-fitrah-dan-kemuliaan-seorang-wanita/10150691584307377
#BoksiStory
Jakarta 02 November 2013
Bidadari pasti bisa

mm
Written by
Boksi Suryani
Join the discussion

Boksi Suryani

⛰️ 6°46’36.5″S 107°35’02.9″E
✍️ Author #BoksiStory
👥 Co-Founder @cleo.outdoor
👣 Owner @lnx.gear