Canda Mulia CANA Ranca Buaya

Canda Mulia CANA Ranca Buaya

Dari sudut penjuru ibukota ke kota kembang parahyangan, mungkin saat itu baru 2 minggu setelah kepulangan saya ke kota yang selalu dirindukan ini, meninggalkan ketenaran ibukota dan menghilang dari hiruk pikuknya. Sepulang dari rutinitas jumat malam dari tengah kota sudut kota kembang merapat sama si kece roda dua ke jatinangor arah garut janjian dengan teman-teman yang berangkat  naek embem lewat tol, sekitar pukul 11 atau 12 malam baru bertemu dengan rombongan 2 mobil setelah habis 2 gelas kopi nunggu, gak apa-apa sih ya, kalau emang cinta sama nyaah mah rela nunggu lama ge *apa sih ieu.

Rombongan 2 mobil dan tambahan 1 motor yang saya naiki kami pun melanjutkan perlajalan sesuai rencana yaitu merapat ke Pantai selatan lainnya yaitu Santolo, dengan si Awal sang driver yang dikenekin oleh si iyok, dan sigit dikenekin sama ibu negara silva kami melalui jalur macet nagreg dengan saya melebeng sorangan karena pake motor mah bisa mepet-mepet.

Meet up pertama disebuah Indomaret garut dan bisa ngobrol dengan semua personil, bertemu lah dengan sahabat baru yang pertama kali ngobrol teteh bella yang jadi pengawal si awal, dea yang jadi bodigurad nya pangestu, dan sifa yang udah kenal oge jadi ibu negaranya sigit, yang lain sisanya budak kelas CANA sama dede gemes si Husi dan si Prie.

2 mobil dan 1 motor saling “ngabring” dan berjam-jam diperjalan hingga sekitaran jam 3-4an pagi, naek motor sendirian sampe pagi lumayan nundutan, oleng beberapa kali tapi untung masih nyampe hingga tujuan dan tidak terjadi apa-apa, sesampainya di santolo yaitu tujuan pertama dan langsung sembahyang shubuh, gak sempet tidur dulu kepaksa langsung ikut ganti baju dan ikut gegejeburan.

Namun ada yang aneh kala itu, si Awal yang biasanya gegejeburan paling motah kala itu hanya bisa terdiam lesu lunglai dan cicing wae -_-. Di monitor sama pengawal baru jadi harus nemenin dan gak bisa kemana-mana, hahaha. Si Dea (bodigurad pangestu) yang emang baru nimbrung aja ini mah yang malah paling motah centil setelah kesedihan kehilangan cap merk “Niccon” di tas kamera yang berakibat kukulutus ke si Pangestu.

Dan emang karena asyik sendiri-sendiri maen nya juga sesuka nya, ada yang maen air sabari gegejeburan, ada yang dipinggiran ngobrol gak bisa kemana-mana, ada yang asyik selfie beratus-ratus kali dan ada yang merenung meratapi nasib bingung mau ngapain sambil maen-maen pasir (sebut saja namanya farisyi) *nama tokoh disamarkan.

Selfie obat depresi *katanya
Selfie Bareng teteh-teteh plus dede gemes

Suasana santolo semakin siang semakin ramai, ada yang wisata sama keluarga besar nya, ada latihan TNI, sama tukang cuangki yang tukal takol mangkok ajinomoto. masih dengan candaan teteh bela dan awal yang murungkut dipinggiran pantai dengan suruta yang menemaninya, kadang candaan suka kelepasan hingga mengorbankan 1 kamera jadi teu hurung deui, kalakuan awal deui wae -_-.

Selamat pagi di tepi pantai aku kan menyapa, sambut mentari di pasir putih aku berdiri…  -Reagge Coffee

Dan kulihat memang ramai adanya pantai yang dipadati pengunjung ini, tapi emang sedang asyik-asyiknya main sendiri-sendiri dengan kesenangan masing-masing, tak jelas dan tak etis juga bila kurasa “kesepian dan keramaian” hanya perasaan diri yang kurang bisa membaur saja. di asyikan dengan ajakan maen bola yang ngutang dulu beli bolanya, ajrut-ajrutan dan lainnya.

Karena tujuannya emang akan ke ranca buaya, siang hari pun kami menyelesaikan main air disantolo tersebut dan berkemas siap-siap melanjutkan perjalana, beberapa dokumentasi main air di Santolo yang kesekian :

Saling berebut pemandian umum dengan mayar 3000 perorang pagancang-gancang mandi biar ganteng lagi, dengan nebeng sabun dan minta sampo, sekitar kurang lebih jam 11 siang kami melanjutkan perjalanan dari santolo ke ranca buaya, dengan ngageber isi bensin dulu dan lanjut ke ranca buaya. Sayang memang diperjalanan menyusuri jalan dan pemandangan sisi pantai menyuguhkan pemandangan yang gak bikin bosen, tapi karena ngantuk belum tidur tetep aja nundutan dimotor -_-.

Sekitar 1-2 jam kami pun sampai di Ranca buaya, dengan bayar perorang 5ribu kalau gak salah kita masuk dan awal and pangestu langsung beraksi jadi seksi nego nyari penginapan yang paling murah, sementara kita sibuk foto-fotu dulu sambil nunggu, dan nyuri kesempatan tidur.

Akhirnya dapatlah kita penginapan 3 kamar dengan harga kamar rata-rata nya 150ribu, dan tetep di nego juga, sederhana yang penting bisa buat tidur sampai hari esok. Siang hari itu kami gunakan untuk tidur sebelum nanti sore jalan-jalan lagi ke puncak guha, dan anehnya kamar bersih dan masih kosong, kita nunggu sambil selonjoran diluar akhirnya ketiduran diluar, bangun-bangun sudah harus berangkat agar sesuai jadwal ngejar sunset disana.

Simpan motor dan nebeng ke mobil dan jadi keneknya awal kita berangkat ke puncak guha yang dimaksudkan dan masuk kesana ada warga yang jaga dan dimintai 5000/orang, tapi tetep aja awal yang beraksi dengan nego harga masuk dan saridona asal keharti aja we cenah.

 Dan banyak lagi dokumentasi lainnya, matahari mulai terbenam kala itu, penerangan dengan nyala mentari sudah meredup dengan heningnya senja yang menguning, dan pulanglah kami ke penginapan kembali, beres-beres dan persiapan menikmati malam lainnya, dengan ikan yang telah kami pesan, dan nasi liwet yang hangat semoga menambah hangat kemesraan kami kala itu.

Setelah sembahyang magrib kami berkumpul kembali, makan bersama di pendopo pinggir pantai dan menyantap makanan yang telah tersedia oleh pemilik penginapan.

Setelah makan-makan selesai akhirnya sibuk sendiri lagi, ada yang gak ada kerjaan maen jejempolan, ada yang sibuk ngarumpi, ada yang ngawangkong teu beres-beres, ada juga yang ngajanteng bingung mau ngapain (sebut saja namanya farisyi).

Dan malam semakin larut semua kembali ke kamar nya masing-masing, tapi ada beberapa yang cari angin keluar dan berbincang ngawur kemana saja, kalau gak salah saya, ricka, indri, farisyi dan yoga diem dulu di sebuah kursi kayu pinggir pantai dan membicarakan apa saja, sedikit dalam memang tapi ya tak apalah hanya mungkin gak keseringan saja, sejenak bersajak malam berbintang pantai karang ranca buaya :

Memang kurasa dingin kala itu
Deburan ombak pantai dan rintik cahaya bintang jauh saling berkedip menemani
Tak disangka kita yang saat ini telah jauh berbeda
Masih bisa dan makin dalam lagi soal bercerita

Bercerita hati ataupun bercerita tentang masa kini
Jauh dari kenangan dan menatap terang ke masa depan
Jauh dari kisah air mata dan mementingkan canda dan tawa
Agar mereka tahu bahwa walau tak selalu bersama kita tetap mesra

Andai deburan ombak bisa berbicara
Mengerti  dan berhembus sendirinya seperti angin laut dari samudera

Semua saksi awal kisah kita bercerita
Tentang masa muda yang mungkin kita tertawakan dimasa tua

Sudah berbagi rindu dan cerita yang telah dialami di rimba sana (perantauan), cetelukan kantuk “heuay” membubarkan semuanya dan tertidur kembali dalam dekapan bunga mimpi lagi.

Dan kembali, awal dan pangestu serta si ayis menemani tidur kala itu, kontes pakenceng-kenceng suara ngorok dan pamotah-motah gerakan tangan dan terjangan kaki. Hingga malam tak terasa pagi telah menjelang dan kita yang tengah pulas tertidur terbangun oleh sikutan sikutang “ngahudangkeun”. Sementara yang lain sibuk mandi dan karena harus ngantri saya tetep jalan cari angin dan beranjak dari kasur kala itu.

IMG_6780Hari libur mandi pagi begitu beratnya dan tetap saja karena mau pulang akhirnya mandi juga *seadanya. Akhirnya semua berkemas semua, niat pulang 2 mobil akan balik lagi ke arah cisurupan garut meski ada jembatan runtuh dan jalur buka tutup, diajak lewat soreang jalan yang lebih cepet berpikir ulang karena terjal katanya.

Akhirnya saya pulang sendirian lewat soreang dan yang lain lewat garut lagi, perpisahan kala itu ditutup dengan nasi goreng harga 12.500/piringnya, dan canda mesra ala kewan cana dan semua yang tumben akur saling sala dan ngobrol babarengan sekarang mah.

IMG_6878Dan pulanglah kami, terhitung dari ranca buaya sampai Cimahi kala itu lewat soreang hanya 3 jam, dan yang lain masih di garut katanya, hingga pulanglah kembali ke cipeundeuy tambahan 1 jam lebih, dan Alhamdulilah sampai tujuan di cipeundeuy sore hari.

Yang lain katanya sampai rumah masing-masing malam hari, yang penting semua selamat sampai rumah masing-masing, rencana maen 6 bulan sekali CANA semoga lebih meriah dan diramaikan lagi oleh para punggawanya, terima kasih atas cerita masa suka canda dan segalanya, abadikan dalam suatu tulisan dan anggap saja cerita mesra kita bersama ditempat nan jauh disana.

Lautan. Kamu adalah metafora keindahan, semua bentuk struktur, warna, rasa malu, impian, tawa, canda, kesedihan, wangi dan irama nafasmu,
Menyangkalnya sebagai keindahan mungkin adalah penyangkalan terhadap pencipta semesta, dan takdir tak sempat melihatmu lagi mungkin sudah rencana dan aturan kuasa tuhan (AJ) -BoksiSuryani

Bandung, 10 November 2015
Boksi Suryani
Kisah mesra CANA ditempat nan jauh disana

mm
Written by
Boksi Suryani
Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Boksi Suryani

⛰️ 6°46’36.5″S 107°35’02.9″E
✍️ Author #BoksiStory
👥 Co-Founder @cleo.outdoor
👣 Owner @lnx.gear