Dari Prau, Merbabu Akhirnya Papandayan

Dari Prau, Merbabu Akhirnya Papandayan

Jum’at 20 maret seperti biasa kerja depan laptop dan masih akrab dengan ssh dan remote system lainnya, sebelumnya sudah janjian dari awal bulan lalu mau pendakian ke gunung prau (dieng), tapi tak jadi karena masih peremajaan dan ditutup, setelah berdiskusi lama-lama dan berujung lama dan akhirnya papandayan lagi yang jadi pilihan berikutnya dalam penanjakan jati diri.

Biasa pulang kantor langsung bergegas pada tempat pembaringan (kost’an) mempersiapkan peralatan yang belum disiapkan (maaf dadakan), baju ganti di bungkus, tenda,jaket, syal, sarung dan sleeping bag senjata malam disiapkan, setelan santai perjalanan bus malam digunakan (sepatu, jeans, sweater), dan sedikit makanan seadanya dimasukan karena sudah dikordinir sebelumnya di teh sinti, alat masak nebeng kang hilwan, siap saya rasa mulai lets’go dan langsung capcus berangkat.

Perjalan pertama lebak bulus – kp. Rambutan, janjian disana buat berangkat bareng ke garutnya. Dan weduuuuuuuun, baru sampai disana akang-akang ganteng dan teteh kerudungan nu gareulis bercarier (tas gede) campur aduk puluhan disini, hari libur jadi pilihan tepat mungkin jadi waktu naek gunung, tapi niat mau nyepi ke gunung masa harus rame-ramean lagi ini -_- !

Tak apa mungkin niat mereka sama, lanjut pada rencana ketemuan dan sampai pada suatu pojokan terminal terlihat kang cumi dan kang hilwan sudah disana ditemani sosok wanita yang tak pernah ketemu dan dikenal teh maisa di group whatsapp, berkenalan bentar dan menunggu anggota lain datang. Tak lama kang dani juga datang dengan gaya gahoool nya,haha, disusul sebuah taksi merapat, teh sinti dan kang tri pun akhirnya datang dan terakhir teman kang hilwan yang katanya namanya kang alfis pun datang.

Semua anggota lengkap dan cari bus arah garut tujuan berikutnya, dan lucunya saat bus garut datang sudah bisa ditebak pasukan bercarier (pendaki) menyerbunya dengan membabi buta, boking kursi dan menyimpan tas raksasanya dengan rapih, pukul setengah 11 malam akhirnya kami berangkat dan tidur jadi pilihan terbaik.

Pemberhentian pertama SPBU tanjung, semua pendaki turun dan bertemu mobil bokingannya, sholat shubuh dan berangkat ke kaki gunung papandayan, 9 orang anggota dan 2 orang pendaki yang bareng kesana, sedikit berbelanja di cisurupan beli makan dan tambahan logistik buat di atas sana, sesudahnya lanjut ke camp david, pos registrasi pendakian, dan sudah ditebak, banyak pendaki berkeliaran disana, dan eagle eye kang cumi pun mulai bereaksi sesuai keadaan.

IMG_3421
Segelintir eagle eye camp david

Sedikit sarapan, dan penanjakan panjang mulai di mulai, medan bebatuan kawah penyambuat pendakian, semua berjajar rapi dan macet karena banyaknya, yang mendaki, yang tamasya, bahkan nanggung gerobak baso pun tak ingin ketinggalan berangkat ke atas sana, dan apa daya lagi dan lagi eagle eye pun kembali beraksi disini, tak tau apa penyebabnya, tapi ada – ada saja kang cumi, penembak jepret kang dani pun terdukung karenanya.

IMG_3500
(Lagi) Segelintir eagle eye kawah papandayan

Duh eta senior saya, aya-aya wae (unthinkable). Sudahlah perjalan dilanjutkan, karena sebelumnya sudah pernah kesini dan sedikit tau medan saya dan kang tri melipir jalur kanan yang menanjak (motong) arah ke lawang angin berdua, dan sampai di lawang angin duluan dari yang lainnya karena tak tahan macet nya diperjalanan. Sampai di lawang angin pun kami di wajibkan melapor kembali disana, sesudah anggota semua datang kami melapor dan cari tempat sepi untuk berkemah, karena di pondok saladah sudah bagai pasar malam tengah gunung, dan tegal panjang sudah berbeda lagi untuk perihal perijinan, gobber hood pun jadi pilihan untuk berkemah malam ini.

Tapi karena waktu masih menunjukan pukul 12.00 siang, tenda dan peralatan lainnya sudah terpasang kami berencana sekedar main ke tegal panjang tuk mengisi sore daripada tidak ada kegiatan. kang hilwan jaga katanya tak mau ikut karena keseringan, (sombong benar senior yang satu itu). saya sebagai yang pernah memimpin terdepan, dilanjut teh maisa dan teh sinti, setelah nya kang sadam dan dilanjut dengan beberapa anggota lainnya. dijalan bertemu sekelompok rombongan penelitian ITB yang sedang singgah beristirahat lalu kami melanjutkan, tapiiiiiii……………. (jreng jreng jreng jreng) tiba-tiba terdengar suara raungan yang menggemaskan, saya berhenti dengan kerennya bak tokoh utama film yang terhembas rambutnya dengan angin yang dikipasin, lalu berlari sekencang-kencangnya kebelakang. hahaha

saya kira saya saja yang mendengar, tapi ternyata teh sinti dan kang sadam pun ikut mendengar, bukan perasaan saya saja, kami rasa itulah yang disebut maung papandayan tea, setelah sedikit berbincang sedikit dan mengambil langkah berani semua pun pulang kembali karena bisi aya nanaon katanya kalau dilanjutkan, hahaha (gak banget)

asa dendam gak sampai tapi apa daya, takdir sudah menakdirkan, (skip). pulang-pulang kang hilwan sedang tidur, dan kami langsung berbenah masak dan nyantai-nyantai, tak lamapun kang hilwan terbangun, hujan mengguyur, dan flysheet terpasang sambil teterekel dan hujan-hujanan karena meredam basah yang berkepanjangan.

IMG_3536nyantai di tempat perlindungan (gobber hood)

Sore hari beranjak malam, uno baru yang masih terbungkus pun akhirnya terkeluarkan, waktunya semua anggota menunjukan keahliannya, kang cumi, teh maisa, kang sadam dan kang alfis yang belum handal pun maen juga diajarkan ahlinya dibaca –> (febi) <– bohong, semua maen dan siapa yang kalah bawa air ke lawang angin pun jadi pilihan buat wudhu solat magrib, dan pemenang pun sudah ditentukan, febi yang pura-pura mengalah akhirnya bersedia membawakan air untuk untuk teman-temannya wudhu sore itu, dan tolong digaris bawahi pura-pura mengalah !

sembahyang malam, sedikit merasakan hawa dinginnya, merasakan sedikit cucuran air hujan terseret terkena pipi bagai suatu kesengajaan dengan malam yang lumayan panjang saat itu, uno dilanjutkan, cikopi bergelas-gelas hangatnya menemani, makanan ringan didapati, sampai singkong rebus plus gura merahnya kang gin serasa menyemangati maen uno untuk kekalahan yang lainnya, semua tertidur dan yang kalah wayahna beberes semua sebelum tidur, dan kang gin pun akhirnya mengakui kekalahannya, forzaaaaaaa febi pun ngajadikeun dan tidak kalah #Support !

besok harinya, kang dani sebagai potograper undangan tertantang bangun pagi buat popotoan sunrise nya katanya, dan tak mengecewakan febi sang pelatih berhasil melatih anak didiknya ini <– bohong lagi

img_3555.jpg
Gunung Cikurai dari Papandayan

 dan sebagai pelatihnya febi ingin uji coba anak muridnya ini sebagai objeknya febi pun tak mengecewakan juga, dia berperan jadi objek yang sempurna dengan levitasi nya berhasil menciptakan suatu maha karya #SupportLagi

IMG_3635
Boksi dan levitasi

mungkin lainnya bisa diliat di link album saya karena kebanyakan, sesudahnya mungkin makan-makan sedikit, beres-beres dan persiapan menuju puncak papandayan buat TC ke rinjani katanya mah, soalnya awalnya sih mau ke tegal alun nya saja, tapi puncak papandayan pun jadi pilihan semua, dengan carier utuh menempel dipunggung, tapi sayang apa daya pada saat lewat pondok saladah semua menganga, (rame pisan) untuk gak ngecamp disana, bagai pasar di cisurupan wae,

IMG_3690
Serasa pasar tengah gunung

tapi sudah biasa mungkin kalo rame-ramean itu tengah gunung sekarang mah. oke perjalanan dilanjutkan, tapi apa daya langkah baru beberapa puluh langkah mungkin langkah kami terhentikan di hutan mati oleh teriakan teh maisa, karena apa ? iya tepat sekali ingin dipoto lagi katanya, oke kami berhenti (pengen juga), hahaha.

IMG_3734
stop di hutan mati (lanjut lagi)

semua beriringan lanjut lagi, tanjankan demi tanjangan di patokan kaki mulai mengleleskan tuur, dan tanjakan mamang pun depan mata (tanjakan sebelum tegal alun) tapi apa daya, mungkin karena jalan nya sempit sama banyak pendaki yang naik maupun turun terjadilah kemacetan disana, tak ada pak polisi yang mengatur, tak ada tukang parkir yang pipiriwitan, jadi weh semuanya ungkla-engkle pelan-pelan naek silih berganti.

IMG_3761
Macet di tanjakan mamang

skip macet-macetan nya, yang penting sudah sampai dulu di tegal panjang, eidelweisnya masih banyak, dan orang-orangnya liat nya pun makin banyak, kang alfis pun mengeluarkan kurma nya, semua anggota pun berlomba-lomba mengincar sunnahnya, mengejar jumlah ganjil tuk memakannya, dari satu terus tiga, terus lima terus tujuh (dari sunnat berujung makruh, berlebihan)

IMG_3774
Tegal Alun, Eidelweis, dan pendaki pendaki banyaknya

maju dulu sedikit, istirahat di aliran sungai tegal alun, dingin-dingin sama lepas penat di tanjakan sebelumnya, berasa pengen nyebur asalnamah, tapi apa daya karena mau lanjut lagi semua niat buyaaar,

IMG_3779
Maen air dulu (Jigah Budak)

oke, tak ada kata bersantai tuan, TC sebelum selesai, mari lanjutkan puncak menunggu dengan pengorbanan di perjalanan, semua kembali berbaris, mang hilwan memipin di medan memasuki hutan, saya dan kang galih dipaling belakang, lumayan sejam sudah lewat dan perjalanan mulai menurun, dan sudah tertebak dimana  da turunan pasti ada tanjakan,  tanjakan terakhir saya lari paling depan dan tak selang kang cumi menyusul, semua sampai puncak, makan-makan sambil berbincang dan biasa (ngalai lagi)

IMG_3783
Sampe Puncak Juga

berbincang sedikit, poto-potoan juga, lalu turun kembali, sampai ke tempat maen  air-air lagi, setelah sembahyang dzuhur sambil nyantai ngopi-ngopi dan pikiran jahil pun datang pada yang lagi ulang tahun, iya kang galih ulang tahun, dan kang cumi dan kawan-kawan pun mengalgojokan, febi pun tak tinggal diam, kapan lagi nyiksa senior, ngangkat paling ujung dan ternyata salah strategi, niat mau jadi tersangka malah ngikut jadi korban, akhirnya ikut tercebur juga,

DSC_0450
Korban penceburan

untung bawa baju ganti, ubah setelan, terasa sudah mandi, dan terasa panggantengnya diantara yang kalian (karena udah mandi), awalnya berniat ngecamp di pondok saladah dan turun lagi, tapi setelah melintas tadi saat naik jadi asa gimana gitu, haha. jadi kesimpulan diambil yaitu ngecamp di tegal alun, tapi di tempat yang agak bersih dan tidak menggangu eidelweis lainnya, pasang tenda, makan-makan dan saat itu juga kang dani, kang gin, dan kang galih pulang duluan karena ada acara yang tak bisa ditinggalkan, tinggal kami berdelapan sisanya disana, dan hujan menerpi flysheet tenda jadi pilihan buat menyelamatkan kekeringan, sambil hujan-hujanan pasang flysheet, dan bisa ditebak sore menjelang malam maen uno kembali, kasian yang kalah mulu ingin malas dendam.

sembahyang ashar, beranjak magrib dan ditutup isya, permainan uno makin ramai sambil ditemani hembusan dingin tegal alun, penutup hari bintang-bintang gemerlap merambat ke permukaan, kabut malam turun di atas tutup tenda, mata sedikit demi sedikit terpejam karena kelelahan, tubuh terbaring dan slepping bag pun jadi teman malam buat malam-malam biasa.

suara adzan pendaki bergemuruh pagi hari, mengingatkan walau tak dikota tapi rimba sama saja, ibadah tak lupa walau apa adanya tapi tak seenaknya terlupa, sunrise pagi melambai menyambut pagi, proses pengeringan setelah kehujanan kemarin jadi pilihan utama supaya turun jadi kering dan enak sampai rumah tujuan, andai bisa menceritakan pagi disana, mungkin kalian harus melihatnya langsung biar tau rasa dan bagaimana indahnya.

IMG_3904
pagi buta di tegal alun disana

beres-beres, sarapan pagi, perjalanan turun yang lumayan lelah, dan sampai di pos dengan sampah dipunggung, anggota yang tak kenapa-napa, walau angkutan garut-jakarta bagai diserbu membabi buta penuhnya, tapi biarlah, biar kami rasa supaya kami terbiasa. (Febi, Hilwan, Cumi, Tri, Ginanjar, Galih, Alfis, Meisa, Sintiana, Dani, Shaddam)

Jakarta, 10 April 2014
#BoksiStory

mm
Written by
Boksi Suryani
Join the discussion

Images not found. This may be a temporary problem. Please try again soon.

Instagram

Images not found. This may be a temporary problem. Please try again soon.

Boksi Suryani

⛰️ 6°46’36.5″S 107°35’02.9″E
✍️ Author #BoksiStory
👥 Co-Founder @cleo.outdoor
👣 Owner @lnx.gear