Gunung Gede From Salabintana

Gunung Gede From Salabintana

Jum’at lalu saya tergesa-gesa sampai tak tau kapan saya seperti apa, pokoknya malam ini kaki saya terasa pegal, paha saya terasa sakit bila ditekan, betis dan lutut saya terasa bergetar jika dipaksakan jalan, mungkin ini efek dari kebiasaan berleha-beha karena kesibukan, 3 hari kebelakang, saya seperti biasa melakukan hobi yang saya mungkin sukai karena tak sengaja, tujuannya gunung Gede.

Iya mungkin benar sebelumnya memang saya sudah pernah kesana, tapi sekarang saya lakukan dengan jalur yang berbeda, jalur yang masih asri dan beda dari biasanya, its the name of “Salabintana” jalur pondok halimun yang jarang dilewati pendaki karena medan dan jalur yang cukup teramat melelahkan.

Waktu itu hari jum’at, dimana kesibukan kantor yang biasa terasa, pulang tergesa-gesa dan langsung merapat menuju terminal kampung rambutan untuk ketemuan dengan kawan pendakian lainnya, yang jujur sama sekali tak pernah kenal dan bertemu sebelummnya, tanpa dikenalkan senior saya mang hilwan.

Menunggu beberapa waktu dan bertemu kang hilwan dan teh ayu yang sebelumnya kenal karena kakak kelas disekolah, lalu bang apuy dan si om toni, lumaya rame juga, dan terakhir menunggu teh sintiana dari lebak bulus, dan setelahnya berjalan menembus ramai sudut kota dan menaiki bus jurusan bogor untuk sampai tujuan, malam teramat panjang, dengan Rp. 20.000 sampai lah kami di bogor, sekitar jam 1 pagi kami turun dan menunggu kedatangan kawan lainnya, om eko, bang imet, mba sachi, ledi, dan basri pun akhirnya datang, sumpah saya tak kenal satupun, hanya dari media whatsapp kami berbincang, akhirnya pun kami dekat dan akrab dengan sendirinya.

Perjalanan tak cukup disitu, kami berangkat ke pondok halimun tempat pendakian awal jalur salabintana ke puncak gede, pukul 02.00 jalan begitu sepi, rusak, dan tak layak lintas, terpaksa kami membayar lebih mahal kendaraan yang awalnya kami sepakati, Rp. 20.000 kembali terkeluarkan dan sampai jam 3 pada pos pendakian, kami beristirahat di warung, tapi saya teh ayu, dan teh sinti tak bisa menutup mata, kami berbincang sekenanya, dan saya rasa suasana ini cukup hangat untuk orang yang tak kenal sebelumnya.

Tak terasa matahari pun menampakan diri, saya ganti baju dan menyiapkan setelah pendakian yang biasa saya kenakan,menuju pos yang pertama dituju, menyerahkan SIMAKSI (Surat Masuk Kawasan Konservasi) dan berbincang untuk sedikit mengetahui tentang jalur dan tempat pada pendakian, dan mulai dari sini perjalanan kami dimulai.

DSCN0026
Pintu masuk TNGP Salabintana

Medan tanjakan pertama menyambut pendakian, tertera 11 KM menuju surya kencana tujuan pertama yang akan kami kejar, iringan nafas menghembus saling bergantian, menit demi menit semua nafas semakin cepat dan membuat langkah kaki mulai melambat, semua terasa seperti biasa, dan membuat perasaan serasa dalam perjuangan.

Rimba gelap tertutup pepohonan, kadang landai, kadang tanjakan, dan tak jarang pula kadang turunan, dan yang menjadi persiapan pendakian akhirnya menampakan diri, it’s the name is “PACET”. Teh ayu yang dari awal sudah sensi dan benci dengan hewannya jadi ahli jerit dalam pendakian ketika sang pacet menempel dan menggit di kaki, tangan, kadang badan.

DSCN0038
Medan Jalur Salabintana

Langkah nya semakin cepat karena tak mau menemui hewat kecil, menggeliat dan menggigit ini, setelah menempel pada kulit tak bisa dilepaskan dan harus di kasih cairan khusus untuk membuat si pacet melepaskan diri, satu demi satu semua dapat bagian, serasa donor darah terpaksa mendapat gigitan nya, untung gaiter ini meminimalisir adanya gigitan di kaki.

DSCN0055
Pacet penghilang mood

Perjalanan pertama tak terasa kurang lebih 3 jam kami berjalan, sampai di cigeber kami istirahat sambil bercengkrama ria untuk menghilangkan suntuk, disana terterasa kami baru selesai berjalan 6 KM dan sisa perjalan 5 KM lagi, disana kami berencana beristirahat di cileutik untuk masak dan makan mengembalikan tenaga dan menghilangkan kelaparan. Setengah jam tak sampai pada tujuan, hujan rintik semakin banyak, kami pun berhenti dan membuat tempat peristirahatan dadakan, dan tak terasa beristirahat selama 1 jam.

Perjalanan terlanjutkan, langakah kami terus berjalan, cileutik yang kami harap-harap tak menampakan dirinya, akhirnya saya memutuskan berjalan didepan untuk mengejar ceck point pertama, tak terasa 2 jam akhirnya kami sampai, dan tertera penjelasan bahwa perjalanan melelahkan barusan hanya menghasilkan 2.5 KM kami berjalan, sungguh membuat kecewa dan terasa terharkosi, tapi apa daya perjalanan hanyalah perjalanan, mungkin karena perasaan kami saja dan memang kami kelelahan.

Hujan sudah dari tadi menerpa tubuh, gemercik sungai cileutik menambah semangat dingin yang menemani peristirahatan sambil menunggu teman yang belakang tuk bergabung dan memanjakan diri beristirahat dengan teh hangat yang kami buat, makanan kecil dan lain-lain, teh sinti dan kang hilwan teman perjalanan dari awal dan selalu bersama didepan.

DSCN0062
Sungai Cileutik 2.5 KM dari Surya Kecana

Dan tak terasa kemballi kami beristirahat sangat lama sekitar satu jam, dengan sekujur tubuh yang basah, hujan tak reda, dan kami melanjutkan perjalanan, dengan tambahan perlindungan jaket tubuh ini mulai berjalan, tanjakan demi tanjakan menjadi tantangan didepan, tak ada landai yang berarti semua tanjakan dan mulai melelahkan.

Setitik cahaya mulai membuat hati ini terobati, tapi seberkas cahaya tadi terasa tak sampai dan tak dekat padahal ada didepan mata, diri ini mulai tak peduli, tak mau kalah sampai disini, walau beban punggung mulai berat karena rintik hujan membasahi kain yang menambahnya, langakah kaki biarlah langkah kaki, semuanya bergerak dorongan motivasi yang tak mau menyerah pada lelah hati ini.

Tak terasa puncak terakhir pun ada didepan mata, turunan terakhir menuju surya kencana akhir nya terinjak juga, kurang lebih 2 jam kami berjalan, disambut badai angin kami tak bisa menunggu kehadiran teman-teman disana, akhirnya kami berjalanan menuju tempat peristirahatan menuju alun-alun utama surya kencana, dan kami membuat tenda disana, tapi dikhawatirkan teman yang belakang tak tau jalannya, saya memutuskan kembali ke belakang dan menyusul teman-teman disana, perjalanan sekitar 30 menit saya berjalan, dan menemui teman-teman, saya berteriak saling bersahutan, bertemu di hutan perbatasan, bang tino yang carier yang paling berat pun akhirnya diketemukan paling belakang, bergantian bawa nya kami melanjutkan ke tempat peristirahatan, bang imet, ka sachi dan bang tino saya kembali, ledi dan abangnya sudah duluan, bang eko tak terlihat tapi kami memutuskan kembali sebelum badai membuat kami mulai kedinginan terlebih.

Sampai di tempat camp kami langsung membuat tenda bang imet dan bang tino, bang eko sudah sampai juga, semua membersihkan diri, menghatkan badan, dan masuk dalam tenda, tak mau sampai badai terus-terusan menghantam tubuhnya.

Setelah saya hitung 10 jam kami diperjalanan dengan waktu istirahat yang saya rasa kelamaan, biarlah tak apa, yang jelas sudah sampai juga, dan sudah tertebak saya dan kang hilwan duet ngorok semaleman dalam tenda, dengan ocehan pagi teman, haha biarlah yang jelas itu teman malam yang merindukan.

Bangun pagi, kabut masih tak berhenti, eidelweis yang biasa menyapa surya kerncana tak tampak, mungkin itu berbedanya dengan sekarang, cengkrama, masak, menjemur pakaian dalam kabut, dan menunggu matari terang, tak datang-datang,  karena kelamaan kami mulai packing kembali, yang lain sibuk mengabadikan surya kencana, saya, kang hilwan, bang apuy, teh ayu, teh sinti, bang eko bere-beres untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya, yang lain tak mau diganggu dan berlama-lama di surya kencana, dan janjian di mang didi (Warung Istirahat pintu pos Cibodas).

Tanjakan pertama menuju puncak gede, 30 menit sampai puncak, seperti biasa dengan kang hilwan, teh sinti, dan menunggu teh ayu, bang apuy, dan bang eko agak lama sampai di puncak, semua tak terlihat hanya kabut yang memeluk kami dalam dekapannya. Kabuk menemani perjalanan kami, menembus kabut dalam pandangan yang tak sejauh biasanya, badai hujan angin yang lebih besar dari biasanya, kami berjalan, langkah kaki saling bergantian, saya, teh sinti, teh ayu, dan bang apuy sedikit berlama-lama di puncak,  bang eko dan kang hilwan duluan turun menuju kandang badak.

DSCN0072
Suasana Puncak Gede dengan Kabutnya

Setelahnya kami berjalan kembali tapi tak terasa lagi dan lagi saya, kang hilwan, dan teh sinti berada di depan kembali, bang eko sedikit tertinggal dengan bang apuy dan teh ayu, melalui jalur alternatif kami berlari kecil untuk mempercepat perjalanan walaupun langkah kaki mulai goyah karena pegalnya.

Setelah sampai di kandang badak kami awalnya mau menuggu di sana, tapi karena terlalu lama dan kami mulai sedikit kedinginan kami pun melanjutkan dan berniat menuggu di pos air panas, kami berjalan kembali, berjalan, berjalan dan terus berjalan, tak terasa pendaki demi pendaki kami lalui dan dahului, sampai di air panas ternyata hujan semakin mendera dan kami melanjutkan ke pos panyangcangan, lalu setelahnya kami turun ke pos cibodas walau simaksi masih dibelakang.

DSCN0078
Pertigaan Kandang Badak (Gunung Gede)

Tak tau kenapa sampai pos kami bisa lewat walaupun tanpa simaksi, mungkin karena terlalu banyak juga pendaki yang turun berbarengan, dan kami langsung menuju warung peristirahatan, tapi tidak di mang didi karena penuh, disini saya , kang hilwan dan teh sinti datang duluan, waktu menunjukan setengah 5 sore, kami makan dan ganti baju, dan menunggu kehadiran yang lain, kang hilwan mengecek ke warung mang didi dan tak terlihat teman yang datang, kami menunggu sampai jam 8 tapi masih tak ada, lalu saya dan kang hilwan memutuskan menyusul kembali ke pos cibodas untuk melihat dan mengecek teh ayu, bang eko, dan bang apuy, tapi masih tak ada, dan kembali turun, dan saat turun kami mengecek sekali lagi ke warung mang didi dan ternyata ada, terceritakan mereka sudah sampai jam 6, etdaaaaaaaaaaaah, terlalu lama ternyata kami menunggu dan cape-cape naek lagi ke pos.

Lalu kami bergabung dan menunggu bang imet dan kawan-kawan untuk berbarengan pulang, target malam ini kami pulang karena besok harus kerja lagi dan menjalankan rutinitas biasa, dan sambil menuggu kami tidur, tak terasa jam menunjukan jam 12 malam, bang imet masih belum ada, karena dingin saya tidoer lagi,wkwkwkwk.

Akhirnya jam 1 saya bangun bang imet dan rombongan sampai juga, walaupun agak di tahan karena simaksi sudah duluan, jam 2an kami turun dengan angkot ke jalan raya dan menunggu kedatangan bus ke jakarta, sedikit lama dan kesal karena ditawari calo habis-habisan yang harganya 40 ribu tiap orang, #Plieseuy

Akhirnya bus yang dinantikan pun datang, sampai kp.rambutan ongkos 20 ribu, bang imet yang asli bogor turun di ciawi, akhirnya bus sampai di kp.rambutan semuanya berpencar dan berpamitan, saya pulang ke arah lebak bulus dan pulang dengan taksi menuju gang rumah dengan ka sachi, yang akhirnya dibayarin, sungguh baiknya, sampai rumah jam 3 pagi, sahur dan sholat shubuh, terlelap sampai jam setengah 8 akhirnya, masuk kerja agak kesiangan, sukseeeeeeeees.

“biarlah sampai kapan langkah kaki ini melangkah, biarkan tubuh ini sampai pada titik total kemampuan dan kinerjanya, tak tau sampai kapan, tapi saya menikmatinya #BoksiStory.”

mm
Written by
Boksi Suryani
Join the discussion

Images not found. This may be a temporary problem. Please try again soon.

Instagram

Images not found. This may be a temporary problem. Please try again soon.

Boksi Suryani

⛰️ 6°46’36.5″S 107°35’02.9″E
✍️ Author #BoksiStory
👥 Co-Founder @cleo.outdoor
👣 Owner @lnx.gear