Nafasku memburu dalam hening serta bisu
Hanya menyaksikan rintik air datang dan menyerbu
Dalam rindu dan kesegaran yang terbawa olehmu
Pembasuh semua penat dan semua rasa peluhku

Mengubah warna-warni siang menjadi gelap hitam
Membenamkan semua cahaya menjadi tenggelam
Dan benar memang adanya moment saat ini yang sering kurindukan
Mengguyur tetes demi tetes dengan rintik dan mata terpejamkan

Teringat cerita dahulu saat ku tersapa terjangan hujan badai menerjang
Ku termenung frustasi sambil menapakan kaki dijalan setapak menanjak
Tengah rerimbunan dan rentetan manusia dengan tas berbeban berat
Hembusan angin, terjangan badai, dan jurang menganga yang siap menyambut dengan ganasnya

Saat seperti ini tak tahu kenapa tiba-tiba ku membencinya
Dingin tetes air menyibak rambut dan meresap ke topi rimba
Sedingin air es, dan dingin seperti hati yang selalu tercampakan
Seganas tusukan pedang pada tulang seperti kata kata-perpisahan yang mudah diucapkan

Berjam-jam melangkah hingga kurasakan akhir dari puncaknya
Terdiam lelah dan bingung apa yang kucari dari perjalanan jauhnya
Selain lelah, dan semua yang kupikirkan di otak sialan ini
Hujan dan setapak menanjak mengambil sesuatu yang tak pernah kucari

Perjalanan hidup, rintangan serta usaha keras yang kujalani
Hingga ku temukan akhir dan merasakan hasilnya
Dan menumpahkan semua diantara hujan dan mendung
Semua curahan dan air mata yang telah lama ku bendung

Ku membencinya seperti ku membenci diriku sendiri
Ku menikmatinya seperti alunan langkah yang menopang diri
Dan ku menyeselinya hingga tak bisa berhenti mendaki hingga saat ini
Hingga tak sadar banyak yang terkorbankan seperti cita, tenaga, serta materi

Dan perjalanan ini belum cukup sampai disini
Hingga ku bisa menemukan sebuah arti
Dan membaginya dengan pendamping diri
Ya, suatu nanti……………

 

Bandung, 12 November 2015
Boksi Suryani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *