Jelajah Pantai Tenggara (Pangandaran)

Jelajah Pantai Tenggara (Pangandaran)

Dan UAS ku berakhir di hari itu (Jumat 15 Januari 2016), ku lajukan kendaraan besi ku dari kampus ke suatu perumahan yang tampak gelap serta rintik hujan kala itu. Ku jinjing daypack harian ku menuju sebuah meja dan kutata rapi semua isinya untuk pemberangkatan yang memang sudah kami rencanakan.

Hingga pukul 01.00 dini hari mungkin lebih beberapa menit mobil jemputan kami sudah nampak saat itu, dan melaju masuk tol Pasteur Bandung kami berangkat menuju daerah Ciamis Tasik untuk ke tujuan. Dengan nada-nada musik pop menghantarkan kami melepas lelah dalam perpaduan perjalanan hingga terbangun disebuah rest area daerah ciamis untuk sekedar menghirup udara dini hari dan meluruskan tulang-tulang yang pegal karena perjalanan.

Personil masih lengakap dengan 15 orangnya, Kang Indra si panitia tunggal yang ngurusin semuanya, pak Warsa dan kang Riza seksi riweuh sana riweuh sini. Dadan, Wawan, dan Dejan si trio RPL yang selalu bersama, mas Habib sang maestro kebumen, ceu Mutia dan Dede Hana bersama sang kanjeng Mamih baik hati dan tidak sombong. Rombongan keluarga pak Oleh, Teh Niah, Opi dan Agung.

Destinasi pertama yaitu adalah Body Rafting nya Green Canyon nya Indonesia, 2 rombongan mobil berangkat dan ditemani 4 pemandu dan menyewa guide dari Goha Bau, semuanya dipatok dengan harga 200.000/perorang.

20160119011733Dimulai dengan merapatnya kami dengan 2 mobil pick up merapat menuju basecamp dan berlanjut dengan jalan sekitar 300 Meter ke start perjalanan body rafting nya tersebut di Goa Kelelawar. Dimulai dengan perkenalan loncat dari baru sekitar 3 meter dan perjalanan kami pun dimulai.

Merapat pada batu-batu dan mengikuti jeram dengan pemandangan tebing-tebing curam yang menjuntai serasa menyapa kami dengan tetesan air disetiap ujungnya. Meskipun memang beberapa kali menabrak bebatuan yang tak terlihat sampai-sampai terseret beberapa kali hingga asyik sendiri. Memang pada perjalanan tersebut didampingi oleh pemandu yang sudah ahli dan lihat sekali dimedan nya, namun perlu juga kesadaran diri dari si peserta agar terhindar dari celaka dan kejadian yang tidak diinginkan saat kegiatan tersebut.

Untuk loncatan paling jauh adalah 7 meter atasnya, loncat dengan “ngalenyap” nya benar-benar terasa. Wawan yang memang tak bisa renang hanya bisa pasrah mencoba mengapung seadanya didampingi sang pemandu kala itu. mungkin dilihat-lihat bisa bayangkan si kentung dari film “tuyul dan mbak yul” *mikir keras lagi bayangin *ah syudah lupakan.

Pak Oleh yang dari awal berangkat masih tetep mengawasi anaknya Opi yang keterbatasan melihat karena tidak menggunakan kacamata akhirnya terdodet batu katanya dijalan karena terbawa arus dan pinggang nya nakol batu *teu sopan pinggang teh

Pak Warsa yang jagoan jujungkiran di wahayangan masih enjoy saja sama CSnya kang riza walau babaraha kali tikudawet dan tisungkur, namun si kang riza mah kebanyakan terjerembab dikubangan dan kisah pilu masa lalu hingga merenung sedih dan tak ceria diujung penjelajahan.

Dadan sama Dejan masih mencoba mengambang dengan santainya nyengserikeun Wawan yang masih telentang gugulitikan diseret sang pemandu karena gak bisa maju-maju *dasar kentung.

Sesudah perjalan kurang lebih 90 menit sampailah kami di rest area body rafting green canyon tersebut, bisa pesan makanan yang kita mau dan segelas kopi yang menghangatkan. Habislah sekitar 30 gorengan dan 8 gelas kopi hingga berlanjut agar segera sampai di akhir finish.

Di tempat sebelum selesai ada tempat yang memang pemandangan nya begitu “Eduuuuan” tebingnya menjulang tinggi, jeramnya keras dan cepat saling bertabrakan dengan batu, dan memang tak bisa dilewati. Dan memang saat itu banyak yang mengikuti body rafting tersebut dan bukan kami saja sehingga penuh dan macet saat itu.

Menitikberatkan pada keselamatan berjalan dengan pelan-pelan dipinggiran tebing dan saling antri hingga datang saatnya untuk berjalan sambil menikmati keseraman dan megahnya tebing disana. Para pemandu bekerja sama satu sama lain untuk mengamankan para peserta yang mereka bawa, memandu hingga bisa melewati jalur yang ada. Melewati lorong jeram bawah bebatuan dan mendaki tebing tinggi diantara stalakmit sampai bisa memutari jalur tersebut.

Cukup lama kami sampai bisa melewati jalur tersebut dan melanjutkan perjalan kembali dengan mengambang hingga sampai di dermaga 1 tempat kami dijemput oleh kapal-kapal yang dipesan pemandu untuk mengantarkan kami ke finish nantinya. Namun di dermaga 1 tersebut semua peserta saling antri dan berdesakan hingga akhirnya kami diharuskan melanjutkan terlebih dahulu dan menyusul kapal kami didermaga 2. Berjalan beriringan kembali hingga dermaga 2, melewati kapal-kapal yang berseliweran dengan baling-baling kapalnya yang agak ngeri juga kami melewatinya *kade ngabeset bro

Hingga dermaga 2 terlihat kami dilepas oleh pemandu dan disuruh renang sendiri-sendiri, dengan sedikit balap saya menyusul teman-teman yang sudah duluan dan sampai juga didermaga 2 nya tersebut.

Dan ternyata tukang gorengan dan kopi haneut tak pernah bikin kita kapok, memesan lagi akhirnya kita dan mengahbiskan belasan gorengan lagi *ah tukang dahar

Dimanfaatkan beristirahat sejenak akhirnya kami melanjutkan ke finish dengan 2 perahu, dengan isi max 7 orang didalamnya. melaju melewati sungai-sungai dan benar saja terbayang bila harus berenang sampai finish jauh pisan, untung pake perahu bro *wakakakak

Akhirnya 2 kapal yang kami naiki sampai di dermaga atau tujuan akhir petualangan green canyon tersebut dan sambutan teh niah beserta agung yang sudah jajan wae dengan balon barunya. Antri kamar mandi dan berganti pakaian untuk persiapan ke destinasi selanjutnya.

Sebelum berangkat parasmanan dulu bersama kanjeng mamih dan melanjutkan ke tempat perpaduan, Batu karas untuk sekedar hanya ingin tahu, membayar di gerbang 1 mini bus dengan harga kurang lebih 60ribu kami masuk dan sampai ditempat wisata batu karas. Dan keinginan sampai disana sudah tak ingin terkena air lagi karena sebelumnya mungkin sudah terlalu banyak jadi hanya jalan dipesisir dan foto-foto sampe puas.

Karena gak jelas ingin apa saya ngajak kang riza untuk windows shopping disana eh ternyata malah belanja beneran dan dapat 2 kaos, 1 kameja dan 1 dasteur ibu-ibu dengan harga hasil tawar-tawaran bebeakan hingga harga yang paling murah walaupun tidak semaksimal penawaran ibu-ibu hahahaha

Setelah belanja beranjak lagi ke tujuan berikutnya yaitu Batu Hiu. Ketiduran dijalan dan tiba-tiba sampai ditempat tersebut dimana saat turun yang terlihat adalah pantai yang terlihat sepi dan sunyi, lalu ada taman batu hiu yang bila kita naik keatasnya bisa melihat hamparan pesisir pantai disana  hingga penantian kita menyapa senjapun tercipta.

Hanya menyapa pesisir pantai yang ada
Dan merasakan hembusan angin laut yang menyejukan sambil menutup mata
Anda hati bisa berkata
Mungkin dia kan menampakan kegembiraannya

Dan pesisir petang hampir tiba diantara senja
Dengan orang-orang ramah yang datang dengan senyum bahagia
Bersama orang-orang yang tercinta
Dan membuat kisah indah yang tertulis direlung dada

Setelah puas disana kami melanjutkan ke penginapan yang sudah kami pesan sebelumnya, di daerah pangandaran dekat Hotel Sari, yaitu Pondok Salsa kami memesan 2 rumah dan tambahan 3 kamar untuk kami bermalam disana, dan akhirnya saya kebagian private room dikamar ujung atas sebelah kiri, merebahkan dan merasakan kelelahan yang tercipta setelah seharian penuh tersebut.

Hingga jam 7 kami disuruh kumpul kembali untuk jadwal makan malam bersama kanjeng mamih kita, dan merapat ke pantai yang telah kami pesan ikan tongkol besar dan baso bakar yang kami bawa dari rumah, makan sepuasnya hingga terlalu kenyang untuk menghabiskan lauk pauk yang ada, ditemani tembang lagu lawas acara reuni alumni cicalengka malam tersebut terdengar ramai dan begitu gemerlap nya.

Waktu menunjukan jam 9 malam, semua satu demi satu merapat kembali ke pembaringan, sementara saya, wawa, pak warsa a.n mang dian, dejan dan dadan ingin berkeliling sambil nganter kang riza cari ATM, karena dirasa tak menemukan juga kami inisiatif menyewa mobil boseh yang bisa dinaiki kapasitas 6 orang.

kami memboseh berbarengan hingga mobil boseh itu melaju mengitari sudut-sudut jalan pangandaran, dengan sopir kang riza yang mepet kanan wae, dan sang supir wanian wawan dan hingga tersesat gak tau arah jalan pulang, walau hingga memang sudah 45 menit baru kami menemukan ATM yang kami cari-cari tersebut.

Saat waktu sewa habis sialnya kami tersesat dan tak bisa menemukan tempat penyewaan nya, dan ternyata malah kami keluar dari daerah pangandaran hingga harus masuk kembali ke gerbang pangandaran nya tersebut. Walau terjadi pertengkaran antara kami karena salah jalan wae hadeuuuuuuh. Yang niatnya mau membangun kebersamaan malah cekcok wae, dasar ABG lagil wakakakakak

Hingga 20 menit berlalu dan kami akhirnya sampai juga ditempat sewa setelah mengandalkan GPS HP Iphone nya wawan dan nanyain hansip di pantai timur. Ah syudahlah kaki saya pegal dan hati saya lebih pegal. Kami pulang dan menghempaskan badan hingga terlelap sampai kemudian hari.

Tak terasa alarm yang saya pasang tak bisa membangunkan saya kala itu, hingga sebuah ketrokan membangunkan dan mengajak berpantai pagi sambil maen-maen bola kecil melepas kesunyian. Hingga kanjeng mamih datang kembali dengan sarapan paginya *deuh asa diulang tahunkeun wkwkwkwkwk

Makan sudah agak dimainin di pinggir pantai bikin istana pasir dan kubur-kuburan hingga kangjeng mamih ngajak naek perahu ke cagar alam, dengan harga perorang 20ribu kami merapat naek perahu dari sinar laut sampai ke pulau sebrang walau masih nyambung sih sebenarnya. Maen-maen pasir dan liatin monyet yang cing arajleng *ah kembaran *eeee busyeet

Melanjutkan masuk ke cagar alam dan membayar tiket masuk lagi hingga berjalan ke Goa Jepang, dan sebelum kesana tak sengaja (lewat depan rumahmu, ku melihat ada tenda biru) *eh lain kitu. Tak sengaja bertemu dengan pemandu wisata dan menawarkan pemanduan yang akhirnya disetujui sama kangjeng mamih.

Diajak ke Goa Jepang yang katanya tempat tahanan dan penyiksaan, dengan candaan please lebih GJ lah, ke bongkahan candi, ke Goa-goa horor yang katanya dipake shooting nyi lampir dan tukul arwana.

Dan memang banyak yang bisa dillihat dari Stalakmit nya dan batu-batu aneh lainnya, ya walau memang rame sih si pemandunya, dan ditemenin gitu dipatok dengan harga 200ribu/sekali jalan.

Hingga keluar pintu cagar alam timur kami dijemput oleh mini bus kami, yang setelah menunggu dengan mie ayam pangandaran yang gak tau bedanya sama mie ayam sukamulya wkwkwkwk

Sampai dzuhur di penginapan yang harusnya kami checkout jam 12 namun karena keasyikan bermain kami harus agak telat dikit hingga pukul jam 14.00 lebih kami baru dinyatakan checkout dan persiapan menyelesaikan penjelajahan atau liburan dipantai ini. Dengan tarikan gas si emang kami merapat pulang dan beberapa kali berhenti untuk membeli oleh-oleh dan makan siang, hingga saya dan wawan masuk angin dan tertidur sampai gak tau tiba-tiba sudah sampai lagi di sukamulya *oh senangnya

Waktu menunjukan pukul 23.40an kalau gak salah, Pak Warsa dan kang riza langsung pulang ke rumahnya dicitepus daerah padjajaran, Dadan yang yang dijemput sudah langsung cuuus dengan bapak nya, dan saya, dejan, wawan, serta mas habib tergoler lesu kecapean dan mengistirahatkan.

Review Perjalanan Jalan-jalan di Pangandaran :

  • Green Canyon salah satu wisata body rafting yang terbilang agak lebih menantang dari tempat lainnya seperti citumang atau lainnya, cuman bayarnya lebih mahal yaitu 1juta/5 orang, mungkin kalo citumang katanya bisa cuman 50-90ribu/orang *katanya
  • Batu karas, wisata pantai yang masuknya agak mahal dan pantainya saya kira cukup bersih walau ramai juga kalo musim liburan, cuman kurang panjang aja sih kalo pantai sini mah.
  • Batu Hiu, tempat yang sepi dan semilir angin menghembus dikala sore, cocok pisan untuk pacaran *tidak disarankan
  • Penangkaran penyu Batu Hiu, sekitaran 100Meter dari taman batu hiu, seperti rumah biasa namun kurang waw aja sih keliatannya
  • Penginapan Pondok Salsa, cukup nyaman dan enak, dan untuk harga bisa disimpulkan sendiri
    1 Rumah (3 Kamar, 1 Ruang Tamu, 1 Dapur, AC, TV, Sofa,dll) Rp. 750 ribu
    1 Kamar (TV, Kipas Angin, Kamar Mandi) Rp. 250 ribu
  • Penyewaan Mobil gowess 50ribu/Jam, dan kalo ntar sewanya lebih juga gak apa-apa dan gak ditagih lagi, bilang aja tersesat dan tak tahu arah jalan pulang, ah butiran debu dasar !
  • Bola sepak 10ribu, kalo yang ada busanya 15.000
  • Naek perahu dari pinggir laut pangandaran sampe pulau yang cagar alam bulak balik 20rebu/orang
  • Sewa alat snorkling 50ribu/sepuasnya/orang
  • Masuk cagar alamnya 15.000 kalo lewat dari naek perahu, kalo masuk lewat pantai timur cagar alamnya 25.000 *katanya
  • Sewa pemandu di cagar alam 200.000 seharian sih kayaknya
  • Jajan Kaos  kisaran : 40-50ribu
    Kameja : 50-70ribu
    Daster : 80-150ribu
  • Mizone : 7ribuan mahal
    Floridina : 7ribuan oge mahal
    Kalo jajan mending di indomaret aja weh,

Sudah puas mungkin untuk jalan-jalan sesudah UAS tersebut, dan terima kasih kepada kanjeng mamih yang repot-repot serasa ngulang tahunkeun, semoga sering-sering saja kali yah.

Penghantar jalan-jalan lainnya awal tahun 2016
Arutala Indonesia & Antique Organizer.
Boksi Suryani, 19 Januari 2016


mm
Written by
Boksi Suryani
Join the discussion

2 comments
Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Boksi Suryani

⛰️ 6°46’36.5″S 107°35’02.9″E
✍️ Author #BoksiStory
👥 Co-Founder @cleo.outdoor
👣 Owner @lnx.gear