[SHARE] : Kesalahan (Fatal) Saat Pendakian

[SHARE] : Kesalahan (Fatal) Saat Pendakian

“Naik-naik kepuncak gunung, tinggi-tinggi sekali”  mungkin tak asing kita dengar saat orang-orang menyanyikannya,
Demi memasang foto-foto di sosial media, mereka (kita) pergi ke gunung. Tanpa persiapan, asal-asalan dan seringkali sembrono.

Sayangnya banyak orang mendaki tanpa persiapan dan kemampuan teknis yang cukup. Mereka yang bukan pendaki gunung melakukannya sekadar untuk hura-hura. Karena tak paham aturan, seenaknya saja mencoreti batu. Mengukir nama-nama mereka di pohon serta memenuhi gunung dengan sampah. kebiasaan atau mungkin yang salah saat kita mendaki antara lain :

1. Merasa jago dalam mendaki
Dengan tak tau medan, persiapan yang kurang, dan pengalaman yang sedikit para pendaki pemula yang katanya suka mencari tantangan dan hal yang berbau extream mendaki dengan ugal-ugalan, keluar dari jalur resmi, dan lain-lain. dan hal yang paling kurang benar nya yaitu tanpa persiapan navigasi yang kurang, peralatan yang tak ada, bahkan kompas tak punya, dan berakhir di dasar jurang, mati kedinginan, atau ditandu SAR menuju rumah sakit.
“Membuka jalur baru juga berarti merusak konservasi. Mengganggu hidupan liar dan ekosistem. Para pendaki berpengalaman tak akan melakukannya selain untuk kepentingan penelitian dan ilmu pengetahuan.”

2. Kurangnya management pendakian
Identik dengan pendakian dan hasil atau pemandangan dan sesuatu yang akan ditemukan nya di penghujung gunung, kadang perbekalan jadi dianggap kecil dan remeh serasa tak apa-apa bila seadanya, identik dengan makanan yang tak sulit untuk dimasak dan instan dimakan, lupa bahwa  mendaki gunung adalah kegiatan berat. Butuh kalori hingga 4.000 kkal per hari. Bayangkan dengan aktivitas sehari-hari yang rata-rata hanya membutuhkan 2.000 kkal per hari. Seringkali para pemula mendapati nasi yang ditanak tak matang sempurna. Maka kombinasi makanan mereka jadi nasi keras, mie instan dan ikan asin. Karena tak nikmat, napsu makan pun berkurang. Padahal tubuh butuh banyak masukan untuk tenaga dan menjaga suhu agar tetap hangat.

3. Salah Packing
Karena tak belajar atau tak mengikuti pelatihan kepecinta alaman atau hanya ikut-ikutan, salah satu dari kita kadang ngasal untuk membawa peralatan dan perbekalan saat mendaki, alhasil mungkin bisa disimpulkan, tak enak punggung karena salah penempatan barang, rusaknya peralatan, atau rusaknya perbekalan makanan yang kita bawa, panci digantung diluar, botol-botol yang disimpan seenaknya hanya menempel di ransel jadi hal yang lumrah, padahal Jangan pernah anggap enteng mengepak barang. Ini yang sering dimasabodohkan pendaki pemula. pikirkan juga cuaca (hujan, panas,dll)

4. Mendaki gunung sekampung
Kemungkinan orang tua mudah memberikan izin jika pergi dalam rombongan besar. Orang tua merasa anaknya lebih aman karena banyak yang menjaga.Padahal salah besar. Rombongan besar justru merepotkan. Makin sulit membagi logistik dan mengatur manajemen perjalanan.Bayangkan butuh berapa kompor lapangan untuk memberi makan 27 orang itu? Lalu perlengkapan P3K? Siapa ketuanya? Apakah dia benar-benar berwibawa untuk mengatur 27 orang itu?. Masalah yang sering muncul adalah banyaknya konflik. Keinginan anggota yang beraneka ragam dan sikap intoleransi. Lihatlah kasus Shizuko, kemana saja teman-temannya yang banyak itu? Pendakian ideal, beranggotakan 4 sampai 6 orang pendaki. Pilihlah satu orang untuk memimpin pendakian. Bukan karena dia ketua, tapi memang memiliki watak bisa diandalkan dan leadership.

5. Hipotermia disangka Kesurupan
Pendaki pemula mendaki tanpa ilmu. Berbekal semangat dan tanpa perlengkapan memadai mereka nekat mendaki gunung. Karena tidak tahu ilmu P3K, maka sering terjadi salah kaprah. Pada penderita hipotermia, korban akan menggigil dan kehilangan kesadaran. Lalu mulai bicara melantur. Karena nyerocos tak karuan dan sukar diajak komunikasi, teman-temannya menyangka si korban kesurupan. Mereka malah membacakan doa untuk mengusir setan. Seharusnya, segera lakukan pertolongan. Ganti pakaiannya dengan pakaian kering. Masukkan dalam sleeping bag yang sudah dihangatkan. Taruh juga beberapa botol air panas di dalam sleeping bag itu. Jaga kondisi lingkungan tetap hangat. Jika sudah membaik beri makanan hangat sedikit demi sedikit. Hindari memberi kopi atau minuman keras.

6. Lomba mendaki gunung
Ciri khas pendaki pemula, apalagi yang masih berusia muda adalah selalu bergerak dengan cepat. Mereka selalu tergesa-gesa, menjadikan naik gunung seolah lomba lari ke puncak. Malu menjadi yang paling belakang, karena sering dianggap sebagai yang terlemah. Karena itu biasanya waktu tempuh ke puncak lebih singkat. Baru setelah perjalanan turun, aneka masalah datang. Kehabisan tenaga, cidera otot hingga kecelakaan dan kehilangan arah menjadi ancaman. Idealnya, ada seorang sweeper yang berjalan paling belakang. Biasanya orang ini yang paling kuat dan bisa diandalkan. Tugasnya menyapu seluruh anggota tim. Memastikan tak ada yang keteteran atau tertinggal di belakang. Namun dalam rombongan pendaki pemula, tak ada yang mau menerima tugas ini. Jadi sweeper dianggap hina. Menjadi paling pertama sampai puncak dan pertama turun ke kaki gunung jadi tujuan utama. “Aku si cepat. Tanpa sadar kutinggalkan sahabatku yang kelelahan mati di gunung.”

sudah banyak teman-teman seperjuangan kita mendahului dalam kenangan manis masa pencarian jati dirinya, menjadi suatu karya dan cerita indah pembuktian dan perjuangan menaklukan ego diri dan sahabat pengusir sepi, semoga ada hikmah dan manfaat untuk kita untuk selalu berjaga-jaga dalam apapun acara dan hal yang kita yakini benar, beware and be careful” #BoksiStory

source :http://www.merdeka.com/peristiwa/6-kebodohan-yang-bikin-pendaki-mati-di-gunung/

Jakarta, 24 Maret 2014

Indah alam jangan sampai membutakan !
#BoksiStory

mm
Written by
Boksi Suryani
Join the discussion

Images not found. This may be a temporary problem. Please try again soon.

Instagram

Images not found. This may be a temporary problem. Please try again soon.

Boksi Suryani

⛰️ 6°46’36.5″S 107°35’02.9″E
✍️ Author #BoksiStory
👥 Co-Founder @cleo.outdoor
👣 Owner @lnx.gear