Masalah Orang Berpendidikan Hari Ini

Masalah Orang Berpendidikan Hari Ini

Nilai akademis adalah prasyarat kelulusan dalam pendidikan negara kita saat ini, walau memang hal tersebut bukanlah indikasi berkembang tatau tidaknya kehidupan kita kelak.

Implementasinya, dengan acuan bahwa mahasiswa atau pelajar mampu memahami dan mengerti materi dengan baik saat ini masih tetap dilihat dari nilai ulangan yang didapat oleh mahasiswa itu sendiri. Dan karena hal tersebut bagi sebagian orang yang tidak terlalu menguasai materi karena berbagai hal menjadi tidak maksimal, mungkin nilai ulangannya yang tidak bagus, atau malah menyontek pada lainnya agar nilainya tidak terlalu jelek.

Atau mungkin malah sudah memahami dan sangat paham akan pelajaran tersebut namun karena alasan tertentu nilai ulangan yag didapatkan nya jelek. Mungkin benar saja menurut orang berteori disana bahwa “Proses tidak akan mengkhianati hasil” Jika prosesnya baik maka hasilnya pun akan baik (Hasil disini salah satunya nilai).

Mengenai suka atau tidak suka dengan pelajarannya, tetap saja harus dijalani dan diikuti. Seperti orang sedang sakit tetap saja memerlukan obat untuk bisa sembuh. Bagaiamanapun suatu saat ilmu-ilmu yang didapat pasti akan berguna baik langsung maupun tidak langsung.

Oke baiklah, sudah mulai bosan saya membaca rentetan orang berteori tiap harinya, ilmu sosial, budaya dan materi teknis lainnya. Berlomba mendapatkan nilai tertinggi untuk lulus sempurna, belajar dengan kerja keras dengan harap menjadi orang berguna.

Benar saja, semua orang berpendidikan dinegara kita akhirnya menjadi orang sukses juga, menjadi para petinggi disetiap daerahnya, masuk politik, kedokteran, ataupun lainnya. Bermodalkan semua ilmu yang mereka pelajari didunia pendidikan sebelumnya.

Dengan hal ini menjadi teringatkan kembali kisah-kisah para orang berpendidikan saat ini yang diceritakan oleh catatan seorang seniur dahulu kang Yat Lessie, yang masih terngiang jelas kabar-kabarnya dipemberitaan Indonesia, dan beberapa kisahnya mungkin seperti ini :

Beberapa tahun yang lalu, muncul berita di media sosial, seorang kader sebuah partai politik besar sangat memuja ketua umum dan dinastinya. Untuk membuktikan kesetiannya, tak tanggung-tanggung, kaki ketua umum, dicuci, dan bekas cuciannya di minum ! Bahkan pada ibunya sendiripun dia belum tentu pernah melakukannya.

Sang menteri olahraga, saking bencinya sama PSSI, biarpun sudah dapat putusan dari atasannya Pak Presiden, masih juga tak mau mencabut surat putusan pembekuan PSSI. Sekalipun sepak bola Indonesia, negeri yang konon berpenduduk 250 juta jiwa, dengan jutaan talentanya, harus terperosok jauh dalam daftar ranking dunia.

Seorang selebriti, yang jelas jelas telah menyepelekan dan melukai hati bangsa ini dengan ucapannya yang menyepelekan simbol negeri. Malahan diangkat jadi duta pancasila, dengan alasan kita sama sama belajar. Maaf, apakah itu pengangkatan dari hati yang iklas ? . Karena kami rakyat kebanyakan kok enggal iklas rasanya. Kecuali para petinggi partai yang mengangkatnya masih haus dengan citra dan sensasi murahan dan kacangan.

Mari kita tanyakan para petinggi tersebut dahulu kuliahnya dimana ? IPK nya berapa ? nyogok gak buat lulusnya ? atau sekongkol sama temennya saling contek sampai bisa lulus dan jadi pemimpin negeri saat ini, atau mungkin juga dahulu mereka adalah mahasiswa-mahasiswa rajin, yang belajarnya giat, dan semua hasil pembelajaran nya dapat nilai terbaik, namun tidak tahu cara mengimplementasikannya dikehidupan nyata.

Mungkin persis pemikiran banyak Kepala Sekolah dan Rektor. Yang lebih suka membumi hanguskan keberadaan organisasi atau himpunan dan segala kegiatan non akademis, dan mementingkan nilai dan hasil pelajaran mata kuliah saja. Padahal selama ini para siswa mendapat pelajaran hidup dan moral bangsa dari organisasi atau himpunannya tersebut, dari kegiatan serta program lainnya. Kondisi ketidaksukaan ataupun hal lainnya mungkin kadang terjadi, dan lalu pembubaranpun menjadi satu satu opsi “keamanan-diri”, ketimbang entar banyak masalah lainnya walaupun hal tersebut tidak tahu apa yang dimaksudkan. Cari aman dari sorotan media atau mungkin takut diobrak-abrik oleh kepala dinas, kepala departemen, dan kepala kepala lainnya. “sebelum terjadi resiko kecelakaan, lebih jitu jika dibubarkan terlebih dahulu”

Ah dan sudah malam, aku terlalu banyak bicara disemua kantuk ini, dari satu pembahasan ke pembahasan lainnya, dengan ketidak pintaran aku ini dan semua kebodohan yang aku punya, ingin sedikit memberi sedikit peran untuk dunia pendidikan disebuah satu keahlian dan masih tetap dalam proses realisasi nyata. Maju terus dunia pendidikan Indonesia, dan semoga tidak mencetak para pembuat masalah yang telah bermasalah sebelumnya.

23.46 WIB. Bandung, 29 April 2016
#BoksiStory

mm
Written by
Boksi Suryani
Join the discussion

Images not found. This may be a temporary problem. Please try again soon.

Instagram

Images not found. This may be a temporary problem. Please try again soon.

Boksi Suryani

⛰️ 6°46’36.5″S 107°35’02.9″E
✍️ Author #BoksiStory
👥 Co-Founder @cleo.outdoor
👣 Owner @lnx.gear