Mistis Eksotis Nan Romantis, Puncak Jawa Barat

Mistis Eksotis Nan Romantis, Puncak Jawa Barat

Kisah berawal dari perjalanan malam cipeundeuy – cimahi dan supir cikijing mantan pembalap F1, dengan mulut komat-kamit bacaan al-qur’an ibu didepan sana sedikit demi sedikit menghela nafas menikmati perjalanan yang waktu itu sangat terasa cepat dan singkat plus terekstrim yang pernah ada, serasa lupa jalur kiri, jalur kanan pun jadi pilihan, sampai truk SPBU juga sabodo mau ditabrak saja. Sial benar angkutan hebring yang pernah ada. Info kami start dari cimindi menggunakan carteran angkutan menuju pasar burung Rp.10.000 dan lanjut menggunakan elf ke cikijing Rp.50.000, transit menggunakan elf ke kuningan dan diantarka turun turun di pos pendakian ciremai (palutungan) Rp. 40.000, terhitung mahal mungkin karena efek mudik lebaran.

Mendaftar di pos palutungan kalau gak salah tiap orang membayar administrasi Rp. 20.000, istirahat sebentar, nyasar ke buper sebentar dan makan mie ayam sebentar yang agak di lama-lamain, dan selesai sembahyang dzuhur yang agak telat dan menyusul ashar yang tepat pada waktunya perjalanan kami dimulai, dengan medan perkampungan sampai pos 1 kami berjalan menunduk sambil merasakan beban yang saat itu masih berat-beratnya.

IMG_4761
Medan pendakian kaki gunung Ciremai

Target camp pertama kami adalah pos Cigowong, konon katanya jarak tempuh dengan berjalan santai hanya 2 jam saja kesana, terhitung ba’da ashar kami mulai berjalan dengan medan jalur yang semakin lumayan sedikit demi sedikit rombongan kami mulai terpisah, karena kang galih, ginanjar dan teh satri memilih untuk berjalan santai, jadi menginstruksikan abdur, faisal, mubarok untuk duluan, boking tempat di cigowong karena takut tak kebagian tempat saking banyaknya pendaki yang naik.

Dan karena saya tak bisa berjalan terlalu cepat dan tidak terlalu santai juga, berjalan lah saya sendiri dipertengahan rombongan tak ada teman berbincang atau untuk saling bercanda kala itu, meski hari mulai sore saya berjalan sendiri dengan “keueung” nya kala itu pengen nyusul teman-teman yang didepan. hampir 2 jam saya berjalan akhirnya mubarok dan faisal pun terlihat lagi uyek-uyekan di perjalanan kami pun sampai berbarengan di cigowong dimana abdur sedang duduk manis menuggu rombongan kala itu.

Mendirikan tenda dan membuat kehangatan kala itu jadi sesuatu yang paling berharga, kopi hangat, susu jahe atau apapun itu yang penting hangat dengan kadang kala mengecek kedatangan senior-senior yang jalan santai yang tak kunjung datang juga “PIIIIIS, TOOOOT, EEEEEEE” tak ada jawaban dan kami ngopi lagi, nikmat benaaaaar. dan sampai sautan kami terbalas minuman hangat sudah tersedia menyambut kedatangan senior-senior kami lanjut masak makan dan istirahat kala itu persiapan untuk melanjutkan perjalanan yang semakin berat diesok hari.

Rentetan Tenda di Cigowong

Sebelum matahari mendahului bersinar kami tak mau kalah untuk bangun lebih pagi, bersembahyang dan menghangatkan diri kembali, mengisi energi untuk perjalanan dan menikmati pagi tak terasa jam 9 kami mulai packing kembali jam 10 pagi kami mulai berjalan meneruskan kembali, dan disini lah Cigowong kami membuat cerita dengan pendaki, sahabat dan pecinta alam lainnya.

IMG_4786
Full team di cigowong buat lanjut perjalanan

Dan perjalanan pun di lanjutkan daratan rendah nanjak memutar langsung menyambut kami, sambil bercanda, jalan berjam-jam kami lelah tak leah mungkin karena lillah kami berjalan, beberapa pos kami lalui saat ini dijadiin tempat beristirahat berbincang dengan pendaki lainnya bahkan saling bertukar makanan untuk mengisi energi yang sudah loyo, tujuan kami mungkin pada saat itu langsung ke puncak untuk mempersingkat waktu, berjalan baris rapi dan keluar candaan baru dan sambil bangganya, saat berjalan biasa loyo benar tubuh ini, tapi untuk menghibur diri saat berpapasan dengan pendaki lainnya apalagi akhwat, kala itu, Tubuh ditegakkan, luruskan carier, jalan cepat dan pasang muka tak kenal lelah, lirikan mata dan pandangan sambil berkata “neng aa pembalap” (GEJE PISAN LAH).

IMG_4793
Sanghiyang Ropoh (salah satu pos Jalur Palutungan)

Dan dari tanjakan asoy kesana rombongan sedikit terpisah kembali, Kang galih yang sudah duluan, kang shadam yang jalan lurus gak tau sudah sampai mana, sedangkan abdur yang membawa tenda menyusul mulai jalan kedepan, kami mengikuti dari belakang. Dan memang ramai benar disana, suara lonceng kadang saling bergerincing beriringan menandakan kehadiran pendaki lainnya, saling berpapasan, bertukar semangat dan lainnya, apalagi berbagi senyum teteh yang papasan, *adedeuuuuuuh

Setelah jam demi jam terlewat, pos demi pos jadi tempat beristirahat tak terasa hari pun sudah menjelang petang, mentari sudah ingin digantikan tugasnya oleh rembulan dan di pertigaan jalur palutungan dan apuy kami bertemu kembali, kang shadam, kang galih dan abdur sudah terlihat, dan goa walet dimana penuh pendaki bermalam disana pun sudah terlihat ramainya, sampai kami kebingungan mencari tempat kosong untuk bermalam juga disana karena sudah mulai larut juga, alias males jalan lagi.

IMG_4813
Kala petang menjelang

Setelah sekian lama mencari kami dapat spot juga di bawah goa waletnya, dan menikmati malam dan beristirahat disana, dan setelah tenda terpasang perut terisi, badan terhangatkan kami pun beristirahat sejenak kala itu. Dan paginya tak mau ketinggalan untuk mendahului mentari melaksanakan tugasnya kembali kami lagi menikmati pagi di atas perbukitan puncak jawa barat.

IMG_4841
Camp Goa Walet kala itu
IMG_4839
View dari bukit Goa Walet

Dan karena puncak yang jadi tujuan kami melanjutkan dengan sisa tenaga yang ada, disini saya ingin jadi yang paling depan, berjalan mungkin tak sampai setengah jam puncak sudah didepan mata, berpapasan dengan saudara pendaki yang sudah dari shubuh sampai dan turun kembali, rombongan pun sampai dan akhirnya kami sudah di puncak jawa baraaaaaaaaaaaaat,

IMG_4867
Puncak Ciremai view bawah

Shubhanallah, indah nian ciptan-Nya, berikut sedikit dokumentasinya di puncak :

IMG_4888
Puncak Ciremai
IMG_4899
Tim Ciremai
IMG_4936
Ciremai 3078 (Top West Java)

Awan terasa dekat dan menyambut dengan ramahnya, hanya bisa sedikit berbangga diri dan berbangga besar lainnya karena ciptaan-Nya,

IMG_4878
Menyelimuti Puncakan

Karena tak ingin terlalu kami dan bermaksud turun melalui jalur linggarjati kami berjalan kembali kala itu dengan jalur lainnya, yang terkenal agak susah dari jalur yang kami lalui kemarin, kami berjalan lurus dan rapi menyusuri puncakan dan pundakan gunung, melewati lereng-lereng terjal mengikuti jalur,

IMG_4974
Lereng Puncak Ciremai

Tapi sebelumnnya sambil merasakan hawa puncak pagi itu kami merehatkan tubuh kami sangat lama disana, sambil masak dan memberi asupan enegergi untuk kami turun, mengurangi beban berat di punggung juga,

IMG_4994
Masak bersama chef Gina

Pukul 2 sore mungkin kami baru selesai, melanjutkan perjalan turun melewati puncak panglongokan, terlihat terjal dan menantang,

IMG_4991
Puncak Panglongokan

Dengan adanya medan terjal lebih dari kemaren, dan susahnya hujan mengguyur jalur yang kami turuni itu, dan sebuh telenovela tertuang dalam kejadian tersebut :

THELENOVELA THE ANGEL’S #SESSION1
Saat hujan mengguyur febi mengeluarkan payung cinta di turunan tersebut,
Teh satri dengan senyum manisnya dan sedikit muka kedinginnya mulai sedikit mengeluh karena tak membawa perlengkapan hujan,
Faisal pun mengeluarkan jas hujan nya dengan memakainya perlahan demi perlahan,
Baru melangkahkan kaki beberapa langkah mata faisal berbinar tak tega melihat teh satri yang saat itu hanya  berbalut kemeja lapangan yang couple dengan kang shadam,
Dengan hati yang rela penuh harap, faisal menawarkan jas hujan nya pada teh satri, sedikit malu dengan wajah memerah teh satri menolak bari jeung hayang *pura-pura
Faisal yang saat itu salah tingkah langsung berjalan kembali karena kegirangan jas hujannya dipakai teh satri sang senior manis pujaan hati semasa dirinya bujangan,
Pencerita tak tau apakah jas hujannya sampai sekarang sudah dicuci atau didiamkan untuk tak menghilangkan aroma sang senior pujaan hatinya tersebut.

Lanjut ke cerita……
Diperjalanan yang terhitung tak mudah karena guyuran hujan kang ginanjar, abdur, faisal dan yang lainnya malah asyik sosorodotan, sehingga tak jarang tikudawet, labuh dan tisungseb, sampe-sampe memakan korban dengan putusnya sendal mubarok yang dipinjemnya dari kang galih, dan sobeknya celana saya karena saking lincahnya *eh jadi malu

Karena kapok saya pun berhenti sosorodotan, dan menyusul kang shadam dan teh satri yang sudah di depan meninggalkan, bertiga didepan jalan menyusul banyak rombongan, dan sedikit curhat ke teh satri celana saya robek dengan alesan mau sholat dulu akhirnya di suatu pos kami berhenti dan beristirahat, sambil memanfaatkan moment mengganti celana yang sudah usang tersebut.

Cukup lama sampai yang lainnya pun datang dan terakhir kang galih juga datang dengan teman barunya diperjalanan, dengan celanan baru (yang gak sobek), dengan tuur yang masih ngageter karena danlatnya edun gancang pisan, diri ini dan yang lain melanjutkan perjalan turun, yang katanya dikira-kira paling jam 8 malam sudah sampai sibunar.

Awalnya kami berjalan berbarengan kembali, dan karena yang lain tak bisa menyusul danlat edun kali ini (Teh satri) yang tak bisa mengimbangi pun tertinggal, mubarok lewat kecapean bawa kompan, abdur lewat sendalna tereh lepas, kang gin lewat karena kebanyakan minum spirtusna abdur, tinggalah kami berempat didepan sana. Awalnya teh satri masih edun-edunnya ngadanlatan paling depan, dan setelah tuur nya mulai karasa leklok pun kang shadam memimpin perjalanan, dan lagi-lagi sebuh telenovela pun tertuang kembali dalam moment tersebut :

THELENOVELA THE ANGEL’S #SESSION2
Rembulan tak menampakan sinarnya dalam rerimbunan semak belukar ini,
Kami berempat yang hanya disinari oleh 3 senter penerangan masih berjalan meniti langkah untuk mencari kehidupan yang lebih di bawah sana,
Hingga suatu ketika suara “Seeeet, gudubrag, aduh, beletuk gudumbreng” memecah lamunan kita berempat saat berjalan menyusuri jalan setapak itu
Diketahuilah Teh satri terjatuh tersandung akar-akar pohon jalur dan terkilir,
Dan dengan cekatan nya faisal lari kedepan untuk menulung sang senior pemikat hatinya itu,
Dengan keadaan sedikit gelap gulita yang hanya tersinari lampu lentera terlihat teh satri masih kesakitan dengan kaki yang terkilirnya itu,
Dengan sedikit keahlian memijit faisal membaringakn dan membentangkan teh satri dan memijatnya,
Diputar-putar lah kakinya waktu itu dengan sedikit dipijat untuk sedikit menghilangkan rasa sakitnya kala itu,
Dengan sedikit nafas terengah yang kesakitan, serta wajah cantik teh satri yang tersorot penerangan seadanya itu, faisal terlihat salah tingkah dan terbingungkan dengan keadaan itu,
Saya dan kang shadam hanya menahan tawa karena moment yang ada,
Hingga sakitnya mereda, dan kami pun melanjutkan perjalanan kembali dengan hati faisal yang berbinar adanya.

Lanjut Kecerita Kembali…………..
sering benar kami berpapasan dengan pendaki lain, malah sampai beberapa rombongan yang lain pun sudah kami susul kembali, dan tibalah disibuar, mungkin kira-kira pukul setengah 9 malam, bukannya langsung beres-beres dan bersih-bersih seperti kang shadam dan faisal, teh satri dan saya hanya bisa terdiam merasakan kaki yang kadang kala bergetar serta badan yang sudah tak tau bagaimana rasanya, walau ujung-ujung nya kami bersih-bersih juga. Kang ginanjar, mubarok, dan abdurrahim pun datang menyusul tinggal kang galih mungkin seorang diri yang belum menampakan dirinya, asalnya kami kira sekitar pukul 11 malam beliau akan turun tapi kata kang ginanjar sampe jam 1 pagi pun beliau belum datang.

Berbarengan dengan mau pulangnya kang shadam karena mau kerja di besoknya karena takut kena SP3 karena naik gunung mulu pun akhirnya menerima dan pasrah pada keadaan, karena ditakuti warga sekitar pulu banyak gank motor cenah dijalanna, halah gak takut, tapi akhirnya setelah menelopon merayu dan menggoda atasan nya supaya senin bisa gak masuk, dan akhirnya pun berhasil, kang shadam terbebas dari SP3, *wakakakak. Fokus kami tertuju pada kang galih yang belum datang saat ini juga.

Kami yang memang sudah kecapean dan kelelahan itu pun ingin sekali beristirahat terutama yang terlihat lelah sekali ialah teh satri sang danlat edun yang terlihat begitu lemas dan katanya ingin pulang saat itu juga, dan karena tak bisa menunggu kedatangan kang galih, akhirnya saya dan kang shadam menyuruhnya untuk tidur dan bersitirahat sejenak di basecamp sibunar kala itu walau ada sedikit telenovela terjadi lagi kala itu :

THELENOVELA THE ANGEL’S #SESSION3
mata indah yang penuh dengan pelangi itu sedikit demi sedikit terlihat memudar karena lelahnya
tubuhnya terlunglai pada bangku kayu sambil sedikit berbaringan
karena tak tega awalnya kang shadam menyeruh istirahat duluan supaya allright pada saat itu juga
dengan alasan tak ada teman bila masuk basecamp dia menolak dengan lemah gemulai nya *kode
dan faisal pun berbisik untuk menemani sang dewi malam terlelap kala itu
kami lanjut menunggu kedatangan kang galih sambil melahap mie rebus kala itu
mereka berdua masuk basecamp dengan sedikit remang dan banyak pula pendaki yang disana
pintu kayu terbuka, mereka berdua masuk pada remang-remang malam
pintu tertutup dan …… (syair disensor dan tak bisa diteruskan)

Kembali Kecerita lagi….
Dan besoknya kami pun menunggunya lagi dengan berbincang bercanda dengan telenovela yang berlangsung selama pendakian dan dengan beranggapan kang galih bermalam dulu diatas dengan teman barunya kemaren. Dan tiba-tiba teman barunya turun tanpa kang galih, ternyata kang galih belum turun juga, dan karena khawatir akhirnya abdur walaupun masih terasa lelah karena perjalanan kemarin dia memutuskan menyusul kang galih ke atas lagi, karena tak tega berangkat sendiri saya pun ikut menyusul, dan kami berdua naik dengan membawa air minum ke perbukitan jalur linggarjati.

Diperjalanan tak bertemu siapa-siapa hingga sudah lama mungkin setengah jam kami naik akhirnya kami bertemu juga dengan beliau yang sedang turun, berbarengan dengan pendaki asal jakarta, *akhirnyaa. karena gelap nya rimba malam kemaren dan kekurangannya penerangan beliau jadi tak bisa melanjutkan perjalanan kemarin, dan alhamdulilah nya ada rombongan pendaki yang membantu berbagi tenda dengan beliau malam kemarin, dan kami pun turun berbarengan sekitar 15 menit turun yang memaksa kaki berasa lagi karena belum rehat penuh sebenarnya.

Akhirnya kami pun sudah sampai semua di sibunar, kang galih disambut dengan kukubima susu nya dan dituntut langsung makan menghabiskan makanan di warung yang ada, saya pun ikut mandi karena keringetan lagi naek ke atas, sesudah semua beres-beres lalu ada mobil angkutan yang naik keatas kala itu, lalu kang gin memanfaatkannya untuk charter kembali ke bawah supaya tak harus jalan lagi Rp. 10.000 perorang, dan dipersimpangan kami turun kala itu, bertemu dengan teman cimahi lagi yang emang dari tadi sudah menunggu, sambil menunggu dengan mengepang rambut ceuceu gina, mainin pisau belati, dan makan mie ayam spageti bus pun tak datang pula, akhirnya pilihan pun terpilih dengan menuju terminal cirebon Rp. 6.000 dan transit dari sana ke terminal cicaheum, dari sana kami naik angkutan lagi mendekati cimindi 2 kali naik angkutan, mungkin sekitar Rp. 10.000, dari cimindi kami semua berpisah disini.

Mungkin hampir tengah malam waktu itu, teh satri, kang gin, kang shadam dan kang galih satu tujuan berpisah di cimindi, saya abdur faisal dan mubarok berpisah di cimahi dan padalarang, tinggalah saya sendiri kebingungan mencari kendaraan pulang kala itu karena kampung saya lumayan jauh darisana, dan Ojeg lah jadi pilihan kala itu, dengan uang di dompet yang segitunya akhirnya pun pencapaian sudah selesai, 40 ribu dari padalarang sampai cipeundeuy, dan pukul 01.11 pun saya sampai dirumah bercerita pada kakak biasanya naik juga dari padalarang temannya sampai 100 ribu lebih, baik benar tukang ojeg kala itu, gak tau gak tau atau emang baik benar dia, tapi terima kasih dan terima kasih.

Setelah lama berjalan dan merasakan apa itu arti kebersamaan dari perjalanan puncak jawa barat kali ini akhirnya banyak hikmah terkandung disetiap perkelanaannya, yakin lah kalau kita itu tak hanya berkelana, karena kita juga sekaligus membuat cerita, dan quotes kali ini :

IMG_4924
Quotes Kali Ini (Ciremai With Love)

#BoksiStory
Jakarta, 19 Agustus 2014
Ciremai With Love
Aa Pembalap
Mistis Eksotis dan Romantis

mm
Written by
Boksi Suryani
Join the discussion

4 comments
Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Instagram

Images not found. This may be a temporary problem. Please try again soon.

Boksi Suryani

⛰️ 6°46’36.5″S 107°35’02.9″E
✍️ Author #BoksiStory
👥 Co-Founder @cleo.outdoor
👣 Owner @lnx.gear