Membuat Cerita Cinta Dahulu Kala (Papandayan)

Membuat Cerita Cinta Dahulu Kala (Papandayan)

Jenjang tingkat 4 STM Pembangunan Bandung (SMKN 1 Cimahi) kesibukan demi kesibukan makin mendera, tapi hati ingin selalu berkelana supaya dapat bercerita. Tertakdirkan melaksanakan Prakerin di Suatu perusahaan Cloud Computing di Ibukota Jakarta dengan jam kerja agak padat, dan tak mungkin untuk selalu pulang dan berkelana.

Rencana pun tercipta, papandayan jadi target berikutnya, rencana awal asalnya tak akan jadi dan gagal karena tak ada teman untuk mendaki, hanya bisa saya dan petrus, lama kelamaan pun ada kang hilwan yang mau ikut dan ikut serta merencenakan dan menyuruh minimal 10 orang untuk pendakian ini, akhirnya mencoba mengajak teman yang lain dan yang ingin diajak. Akhirnya pun berangkat 8 orang dengan personel : Saya, Petrus, Kang Hilwan, Pangestu, Teh Rini, The Gita, Sri, dan Nandang.

Jum’at malam saya pulang dari ibukota ke desa cipeundeuy tercinta, tapi sabtu paginya mengharuskan kembali saya berangkat, berkumpul di STM dengan semua personel, saya nebeng ayah yang kebetulan saat itu berangkat kerja, dengan peralatan yang sudah disiapkan sebelumnya, carier dipunggung dan semua siap terlaksana.

Diperjalanan nandang yang berangkat dari bogor member kabar bahwa dia sudah sampai di STM, saya menyeruh menunggu nya untuk kedatangan saya, terakhir mendaki dengannya ialah di Gunung Bendera “Padalarang”, saat sudah sampai kami langsung ke basecamp stampara, menyiapkan peralatan dan menunggu anggota lainnya untuk datang dan berangkat bersama.

Image

Tikungan Tajam STAMPARA

Lalu pangestu dan the gita pun datang, langsung dari Jakarta ke STM walau pangestu pulang dulu kerumah, kami bertiga menunggu, lalu kang hilwan datang, setelahnya saya mencoba membawa tenda dulu ke ridwan sambil membeli spirtus, kami berbincang dan sambil menunggu, ridwan tak bisa ikut karena ada janji sebelumnya, teh rini pun datang dan pertama kali berkenalan dengan saya, petrus datang menyimpan peralatan dan pulang sebentar karena ada keperluan, dan waktu keberangkatan pun semakin mulai dekat, terakhir pun sri datang, dan kami mulai berkemas untuk keberangkatan, menaiki angkot cimindi-cimahi dan turun di statsiun cimahi.

Tujuan pertama kami ialah menuju cicalengka dengan kereta, menaiki jadwal pukul 11, sambil menunggu kami bercengkrama supaya lebih akrab karena sebelumnya saling tak mengenal. Perjalanan pun kami tempuh sekitar beberapa puluh menit lamanya,

Image
Statsiun cicalengka

Sesudahnya kami langsung merapat ke jalan raya dan mencari tumpangan menuju garut untuk bertemu mang Eep yang akan mengantarkan perjalanan kami menuju kaki gunung papandayan tersebut, bisa dibilang perjalanan cukup padat merayap, sekitar pukul 2 kami sampai disana dan bertemu mang Eep yang dengan setianya menunggu kami dari siang.

Sejenak beristirahat dan bersembahyang dzuhur kami melanjutkan kembali perjalanan menuju camp david tujuan pemberhentian pertama di POS pendakian gunung papandayan, perjalanan lumayan mengesankan, menebus kabut dan sedikit gemercik hujan menemani dan membuat cerita di perjalanan.

Sampai di camp david kami mungkin sekitar jam 4 dan kami sembahyang ashar dan makan sambil sedikit mengisi perut yang mulai kelaparan, saat kami mau nanjak kami terhalang oleh hujan yang lumayan besar dan kami pun tertahan sampai hujan berhenti, sekitar jam 5 p.m kami baru mendaki dan menerjang jalan setapak demi setapak dalam bebatuan kawah yang menemani.

Jalur pertama yang di tempuh berupa medan kawah dalam bebatuan dan asap belerang yang menyerang, tapi pemandangan nya shubhanallah indah, lalu masuk pada hutan dan mulai belantara, saat itu tujuan kami ialah tegal panjang yang kira-kira jarak tempuh 2-3 jam, langsung Kang Hilwan sebagai pemimpin dari kelompok kami mengajak saya untuk berdiskusi untuk memindahkan target pertama dan bermalam di Pondok Saladah dahulu yang dari sana sekitar 30 menit, karena takut sembahyang magrib kami tinggalkan kami pun setuju dan bermalam disana, banyak pendaki lain bersama kami, sangat ramai dan seru saya rasa.

Image
Pondok Saladah

Tapi karena sudah disini kami menyempatkan untuk sedikit mengunjungi tegal alun untuk merasakan hamparan eidelweisnya, melewati hutan mati yang terlihat seram tapi indah tanjakan yang lumayan membuat rasa pantang menyerah terasah, 1 – 2 jam mungkin kami berjalan, dan kami merasakan keindahannya.

Image  IMG_9326

IMG_9377
Hutan mati, Tanjakan Mamang dan Tegal Alun

Indah, keren, shubhanallah kami sangat menikmatinya, setelahnya pun kami turun kembali ke pondok saladah, dan melakukan persiapan menuju tegal panjang yang asalnya menjadi tujuan, sebelum dzuhur kami berangkat dan berpamitan dengan pendaki lainnya, menuju tegal panjang, sekarang medan berbeda, masuk hutan dan rimbunan, melalui pungguangan demi punggungan, sembahyang di perjalanan dan melanjutkan, dengan soundtrack music galau teh rini, dan sedikit guyonan para sahabat menambah kekocakan perjalanan, sekitar pukul 5 kami sampai, dan ekspresi saat masuk hamparan ilalang ini kami semua berteriak dan girang kesengangan bukan kepalang, sungguh indah dan benar-benar indah. Nandang yang sedang puasa sunnat terasa hebat melakukan pendakian tanpa rasa ingin membatalkan sedikitpun.

Terserang gemercik hujan kami membuat shelter sederhana untuk perlindungan dan saat sudah agak reda kami membuat tenda dan menikmati malam, dan sungguh malam itu malam yang sangat mungkin berkesan dan parah capruk abis, Sri pun jadi korban selanjutnya kang hilwan dan kami sangat menikmatinya,.

IMG_9677 IMG_9780

IMG_9890
Tegal Panjang

Setelahnya kami pulang, dan kembali melalui rute sebelumnya, punggungan demi punggungan kami lalui kembali, sekarang saya yang memipin perjalanan, 1 jam lebih mungkin kamu sampai ke lawang angin dan turun ke camp david dan sedikit mampir ke curug bidadari diperjalanan, kebetulan mang eep pun sudah dating dan menuju ke bandung, kami dari sana langsung merapat ke bandung, magrib kami sampai bandung, dan kami saling berpisah darisana, sungguh indah 3 hari ini, pulangnya saya sejalur dengan teh gita dan kang hilwan, naik bus arah ke Jakarta, saya dan teh gita turun di cikalong dan kang hilwan ke purwakarta. Sampai rumah langsung beres-beres mandi istirahat dan tidur.

Memang cape sekali, lelah super lelah malah, tapi sungguh saya sangat suka dan menikmati pelajarannya, terima kasih kepada pangestu, teh rini, sri, petrus teh gita nandang, dan kang hilwan yang telah meluangkan waktu, saya tunggu di pendakian selanjutnya.

Dokumentasi : Hilwan El-Farhana
Mt.Papandayan yang waktu itu tea.

mm
Written by
Boksi Suryani
Join the discussion

Boksi Suryani

⛰️ 6°46’36.5″S 107°35’02.9″E
✍️ Author #BoksiStory
👥 Co-Founder @cleo.outdoor
👣 Owner @lnx.gear