Penggila Kata-Kata Mesra, Niis Sabtu Minggu

Penggila Kata-Kata Mesra, Niis Sabtu Minggu

Sahabat lama, apa daya selain kata akrab dan tak ada kata rahasia diperjumpaan nya. Yap !!! berawal dari rencana niis selepas UTS berlangsung disetujuilah oleh 6 orang tuk niis bersama, di punggungan ujung kebun teh Sukawana kala itu, nama tempat disebut “Singgasana”.

Sepulang ngantor jumat malam, peralatan baru disiapkan, yang asalnya hanya 5 orang akhirnya berangkat 6 orang dengan tambahan aramda “Giyanti” yang ingin ikut niis selepas kepergiaan sang pujaan hatinya. Berbekal carier, tas selempang dan setelan ganteng seadanya, merapat dari cipeundeuy ke Sangkuriang (rumah iyok) dengan susurumputan dijalan karena banyak razia. Hingga pukul 13.00 semua (6orang) telah berkumpul dan merapat dengan 3 motor ke arah cisarua. Ditemani perjalanan dengan obrolan dan pelukan Awal kala itu (semotor) merapat ke Sukawana yang telah dijanjikan, menunggu di dekat sebrang Villa Merah di lahan tower. Sebagai informasi untuk masuk daerah sukawana sudah terdapat portal yang nantinya yang melintas wajib membayar Rp. 5000 perorangnya. Karena saya dan awal datang pertama kala itu sambil menunggu teman yang lain diselingi 2 piring baso tahu dan sedikit setting-settings kamera pinjeman kala itu hingga yang lain datang dan merapat dengan piring baso tahu lainnya.

DSC_1489
Disamperin tukang baso tahu sukawana

Adzan ashar menjelang dan kami merapat ke mesjid sukawana kala itu, dan motor kami titipkan di post perkebunan dibawah mesjid, sebagai informasi lagi, untuk masuk perkebunan teh nya nanti setiap orang wajib bayar (lagi) Rp. 5000/orang, itu juga kalau mau ngecamp nya diperkebunan, kalau udah masuk kawasan perhutani beda lagi *objekan terus :))).

Setelah sholat mulai mendakilah kala itu, kebetulan dibawah saat naek sore itu lagi rame-rame nya karena besok ada acara marathon trail run pake jalur sukawana jadi banyak spanduk dan lainnya, namun kebetulan yang naik ke singgasana tak ada orang lain selain kami *beruntung pisan.

DSC_1523
Awal pendakian sukawana

Berjalan 10-20 menit dengan medan batuan dan dikit tanjakan, wajah Giyanti yang emang dari berangkat sudah menekuk karena gundah yang dialami nya makin butek karena kelelahannya, Awal, Yoga, Ricka, Adit, dan saya mungkin karena sudah pernah sebelumnya jadi agak terbiasa, terbawakan celotehan bercanda awal yang menghibur, dan lainnya bagi saya harusnya gak kerasa, tapi karena emang gak semangat saja sehingga terasa cape bagi “DIA” yang hatinya lagi remuk beraduk dan hancur tak tersisa saat pendakian kala itu.

Karena emang sering jadi agak tahu juga jalan pintas yang lumayan mempercepat perjalanan kami kala itu, dengan Giyanti yang tas nya asalnya ditukar dengan awal, terus akhirnya dibawain juga biar maju cepet tolong garis bawahi bukan gak kuat karena cape tapi suasana hatinya aja lagi gak beres :)).

DSC_1524
Dokumentasi pendakian si jomblo kesepian

Setelah berjalan lama dan beberapa kali istirahat diperjalanan juga, akhirnya kurang lebih satu jam kami sampai disinggasana, tanpa belas kasihan saya kordinir supaya Awal dan Yoga saya suruh nyari kayu bakar, Adit dan Ricka langsung saya suruh mendirikan tenda  sebelum mendirikan rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warahmah *apasih -_-. Sementara Giyanti yang bisa ditebak lagi duduk manis istirahat mengistirahatkan raga nya yang lagi kelelahan dan hatinya yang lagi meraung dan mencari kebenaran tentang semua yang telah terjadi *naon deui ieu teh -_-.

Senja semakin menjelang, dan matahari yang menyala pun sudah siap melambaikan salam perpisahan pada 6 orang yang sedang asyik bersua kala itu, tenda sudah berdiri, api unguun sudah mulai menyala menggantikan mentari senja, dan makanan yang dinanti sudah mulai diproses. Dan hikmahnya malam ini tak sia-sia mengajak Giyanti, mungkin karena dia lebih handal dalam memasak makanannya.

DSC_1600
Suasana camp di singgasana kala itu

Magrib hingga Isya kaditu kadieu kukulintengan, masak sangu, sosis baso, mie, pindang, seksi penyuluhan (api unggun), dan sholat hingga makan semua siap dan makan dinner malam, atau dinner malam, cuman kurang tambahin lilin aja biar romantis soalnya si Awal sudah siap berkeliaran *awal ngepret.

Perut sudah terisi, kopi hangat siap menemani, makanan kecil dan obrolan yang lebih hangat sungguh mengindahkan semuanya suasana kala itu, dan sungguh diam sejenak serasa bersajak :

Bagaimana seharusnya dapat ku beranjak, bila bumi yang selalu aku injak lebih indah dari sebuah sajak -Boksi Suryani

Dan kurasa malam yang kualami saat ini begitu romantis
Bersama kalian dan kopi hangat yang kuseduh begitu terasa manis
Seperti gelap malam, yang diterangkan nyala api
Seperti sesibuk kita yang menyempatkan moment seperti ini

Biarkan kaum minorotas kita berkata apa saja
Tentang bullshit nya kebersamaan yang selalu kita angkat bicara
Tentang hati yang ada, hanya saja raga tak bisa selalu bersama
Biar kita sebut itu keluarga, ya Keluarga CANA

Malam kala itu terasa seperti telenovela, kita semua yang hanya orang-orang yang senang bercanda, terperangkap diobrolan dewasa, dengan jawaban-jawaban dan tanggapan bijaksana, walau diselingi dengan cucuran air mata.  Waktu menunjukan sudah malam, sukawana dan sekitarnya sudah juga malam, dan kita masih kelayaban, disunyi hutan dan pelukan dingin alam, dengan soundtrack angin, binatang malam dan kentuk yang saling bersautan *hadeuh -_-.

Hangat malam dalam dekapan nyala api
Hangat malam dalam dekapan nyala api

Mungkin pukul 3 pagi kami baru terlelap, dan bangun lagi pagi hari itu, iyah soalnya mau tidur jam 10 teh di celetuk yoga “Mun arek sare mah diimah weh” jadi weh gak bisa tidur -_- *oke fiks si iyok gara-garana.

Besok paginya kami masak dan sarapan pagi, sebelum rencana mau kekawah. Setelah masak, dan membereskan semua perlengkapan dan peralatan. Biasa sebagai orang yang terganteng, rupawan, dan tidak sombong saya kordinasi dengan adit sebagai seksi kebersihan untuk memastikan tiada sampah yang tercecer dan tertinggal kala itu *intina saya gak mau bawa, jadi weh nitah :))).

Perjalanan dari singgasana rata-rata kayaknya sih 1 jam sampe kawah, pertama sampai di pinggir kawah sudah 2 dua orang disana, biasanya hanya nyapa dan permisi kemudian pasang hammock dan istirahat, hingga akhirnya salah satu seorang itu datang menghampiri kami dengan kata “excuse me”, dan langsung mikir dalem hati “ah orang luar, liur ngaladenanna”. Untungnya seseorang yang hatinya lagi remuk gundah gulana dan tak bersisa ini yang kita sebut “giyanti” dulu pernah ikut ekskul english club jadi ya lumayan lah bisa ngerti sama nunjukin keramahan orang indonesia ke warga negara asing.

DSC_1623
Nyantai di puncakan jurang Tangkuban

Yang pengen saya tekankan ke orang luar yang katanya nganggep orang indonesia ramah-ramah tolong juga dong, kita orang indonesia kalau ingin keluar belajar dulu bahasa daerahnya baru main kesana, orang luar juga belajar bahasa indonesia juga dong biar lancar dan intinya bisa ketipu sama orang-orang kita, pasti gak mau kan :v.

Di pinggiran jurang yang hening akhirnya berubah ketika para penggiat trabas dengan bisingnya knalpot motocross datang, bari cicing sambil ngopi cuman liat-liat pemandangan dan mandangin yang lain lagi enak tidur karena kecapean, asa pengen ngomong “mun rek sare mah diimah weh” tapi apa daya da udah pada tidur jadi ngomong juga gak didengein -_-.

Setelah kenyang dokumentasi (selfie dan lain-lain) kita pulang lagi melalui jalur yang sama, ke singgasana dan turun ke mesjid yang pertama kali kami singgahi, dan ambil motor langsung pulang semua ke basecamp riributan rumah yoga, sembari ikut makan intinamah :))

DSC_1657
Dokumentasi Puncak Tangkuban *Awal nu Moto

Segelintir dokumentasi lainnya :

 

Jika melihat apa yang telah kami korbankan haruskah kami list dan buat daftarnya ? salahsatunya :
– Materi (Beli logistik, bayar masuk, isi bensin, dll)
– Tenaga (Diperjalanan, Naek gunungnga, dll)
– Baju kotor
– Istirahat kurang
– tidur gak nyaman
– dll

Lalu apa yang kami dapatkan, dan perlukan kami list dan buat daftarnya juga ? saya rasa tak usah, karena kau takan mengerti bila kau tidak merasakan. Terima kasih malam-malam indahnya dan kebersamaan yang telah tercipta.

Ketika router dan switch tidak bisa terpakai, kabel dan sinyal radio menjadi semakin tak terlihat dan tak berguna, konfigurasi serapih apapun takan bisa berjalan, dan hanya gunung yang menjadi media transmisi dan pengaturan terbaru antara hati-hati kita. -Boksi Suryani

#Cipeundeuy, 7 November 2015
Boksi Suryani

mm
Written by
Boksi Suryani
Join the discussion

Images not found. This may be a temporary problem. Please try again soon.

Instagram

Images not found. This may be a temporary problem. Please try again soon.

Boksi Suryani

⛰️ 6°46’36.5″S 107°35’02.9″E
✍️ Author #BoksiStory
👥 Co-Founder @cleo.outdoor
👣 Owner @lnx.gear