Boksi Suryani Personal Blog – Sajak, Note Journey with Documentation

Perbukitan Menawan Gunung Bendera

Mengilas postingan saya dahulu saat masih menggunakan http://boksistory.blogspot.com Rabu, 06 Maret 2013 dan merevisi nya sedikit supaya mungkin lebih tertata rapi, tapi bisa dilihat yang aslinya di –> http://boksistory.blogspot.com/2013/03/gunung-bendera-padalarang-bandung-barat.html. berikut kilasan cerita yang telah direvisi dengan sedikit ingatan yang masih ada :

Cerita bermulai pada 23 Februari 2013, yang katanya berawal dari buteknya pelajaran dan pemantapan (pelajaran tambahan) disekolah yang harus diikuti (maklum pemalesan), dan janji kesekian kalinya yang harus ditepati yang rencana nya mau nanjak ke gunung bendera padalarang yang gak tau dimana dan gimana rupanya.

Saya berangkat bersama teman saya di perhimpunan, janjian pukul sekitar jam 3 sore sama si Iput, yang kebiasaan ngaret nya sudah biasa walaupun jadi berangkat (yang sebenarnya) jam 16.00, ngaret sejam lah biasa, halah.Mengemas peralatan, masukan logistik, dan angkut carier yang gede serta berat dengan biasa (padahal males banget). Saat keberangkatan ada berita mengejutkan, nah disini cerita sedih bermulai, pada kala itu Iput tak bisa ikut mendadak karena mendapat kabar yang buat lutut kami berdua gemetar, tapi apalah iput, sebijaknya iput dia menyuruh saya tuk pergi sendiri saja, karena tak kuasa mengingkari janji saya pun berangkat sendiri kala itu. dan kepikiran kekoplakan si bentol dengan sms koplaknya,

“mun teu datang tong kenal deui jeung aing nya bok” sms bentol siang kala itu, pikasebeuleun pisan kan, bener ath da,

Akhirnya berangkat sendirian menuju Padalarang, dan serasa linglung dan terasa tolol sekali karena diri sudah mendiami kurang lebih 3 tahun di Cimahi tak hapal jalan padalarang (Maklum anak rumahan,eh kost’an), akhirnya sampai di Padalarang nanyain temen terus SMS si Bongkrek, si Ciput, Si Gobed, (euweuh nu bener ngabejaan teh), dan akhirnya ketemu di perumahan blok F naon gitu lah, bareng si Ciput + si Bongkrek (Bidadari budak HISPALA) *dusta.

Sudah mempersiapkan segalanya bertiga langsung merangkak berjalan langsung naik ke gunung bendera, jemput dulu si Jenong di Jalan, dan bertambah lagi bidadari Budak HISPALA na,*kedustaan lainnya. jam 5 Sore lebih mulai jalan lagi dengan perasaan asa paling ganteng diantara nulain (lalaki hiji-hijina) perjalanan naik turun bukit, rada girimis + angin rada ngadupak golep(rambut).

Setengah jam kami berjalan akhirnya terhenti disebuah saung warga diperkebunan, dengan rada ngomean sendal si Bongkrek yang lepas(pegat da sukuna galak, haih), Perjalanan dilanjutkan dengan sendal baru yang dipakai si Bongkrek(cadangan) menuju gunung bendera.

Pukul menunjukan setengah 7 malam, dengan sudah naik 2 puncakan dan akhirnya turun lagi, sekilas terlihat gunung bendera berada di tengah-tengah perbukitan gunung padalarang, dan lagi dan lagi ternyata diperjalanan sendal saudari Bongkrek ini kembali pegat (beneran galak nih kaki, padahal baru ganti), lalu kurang lebih 90 menit kita sampai di puncakan Gunung Bendera yang terlihat sudah terpasang 3 Tenda teman kami yang sudah dari sore sampai duluan.

SAM_0656

Rerumputan henyap sepi malam hari

Suasana malam rerumputan begitu sepi henyap disini, banting Carier, masuk tenda, dan makan,(asa ku genah). sedikit bercengkrama dan menikmati sudut gunung padalarang yang indah dihiasi taburan bintang dan gelap karena malam.Beristirahat menyambut pagi esok yang mudah-mudahan cerah dan menyejukan, tidur, tertidur dan dan mimpi di tengah rimba, dibawah langit biru dan lindungan tenda yang menghangati.

Pagi hari indah terbangun, ingin #KuCeritakanPagiIni,

#KuCeritakanPagiIni
Cuaca Cerah, deretan bukit melambai menyapa pagi
Embun yang menempel ditenda serasa ciri dingin yang melegkapi dini hari
Pemandangan indah yang terhiasa sambil ditemani nikmatnya hangat kopi
Jarang kurasakan seperti ini selain di tempat sesepi ini
SAM_0659

Perbukitan Gunung Bendera

SAM_0671

Perbukitan Gunung Bendera

Matahari mulai menyinari, pandangan terbuka, dan perbukitan melambai luas dimana-mana, sungguh tak biasa. dan untuk membuatnya supaya biasa lagi dan lagi kami seperti biasa ikut rutinitas orang waras dan mulai memasak dan makan untuk menutupi suara kurubuk-kurubuk dalam perut, menyusul dengan teman-teman yang menyusul datang pagi ini, yang pertama mungkin gobed datang bersama temannya, dan edannya juga kang tuyul dengan kang ayik naek sepedah kesini, bisya jadi bisya jadi, mungkin karena jalur yang masih asri dan jelas enak diperbukitan jalur ini bisa dilalui bahkan sepeda sekalipun.

SAM_0739

Kang tuyul VS Kang Ayik

Dan pas makanan jadi beliau berdatangan, pas bangeet kan, pas lah, lalu kami mengisi perut kami sekedar bercanda dan menikmati sisa-sisa sebelum turun kelak, sebelum turun awan mengguyur kami sebentar yang belum mandi ini, mungkin sengaja buat kami lebih segar kembali, tapi subhannallah indah nian juga pemandangannya.

SAM_0746

Awan mendung di perbukitan

SAM_0686

Habis gelap terbitlah terang

hujan berhenti pertanda kami harus membereskan peralatan kami dan pulang, semua packing, dan membersihkan sampah disekitaran tenda, melihat perbukitan jalan menurun kala itu kusnadi lari jauh meninggalkan kami, “deuh songong si eta”, tapi saat kami sudah mulai mendekati dia diam dan tertunduk lesu. kami keheranan dengan apa yang dia rasakan, dan kami sadar dan tak bisa menahan tawa saaat dia berkata bahwa HPnya jatuh dan hilang entah kemana, karma masih berlaku disini ternyata #eh.

Kami turun melalui jalur yang berbeda dan ternyata jauh lebih dekat (naha naek ge teu lewat dieu), sial banget saya rasa, berkunjung ke si tuan rumah dulu (Bentol) mandi dan pulang (sendirian) walaupun gak tau jalan lagi, eh, ya maklum lagi anak rumahan, eh kost’an.

Dan hikmah pun bisa diambil disana :

Bukan saudara satu keturunan,
Bukan saudara satu perhimpunan,
Bukan juga saudara yang terikat satu ikatan,
Tapi kami saudara yang tersatukan karena hobi dan kegiatan sama, “it’s a outdoor & adventure”

SAM_0720

Mendung di perbukitan

SAM_0819Thanks for tuan rumah Bentol, Bongkrek, Ciput, Jenong, Gobed,terima kasih juga ka vicki,nandang dan kang Cipeuw, kapan-kapan bila ada waktu bersua kembali kita bisa saling bercanda kembali diperbukitan yang sama ataupun berbeda.

SAM_0857

Gunung Bendera Perbukitan Menawan

Transport :
Leuwi gajah – Cimahi, Angkot Ungu Cimindi – Cimahi Rp. 2000
Cimahi – Padalarang, Angkot Hijau Padalarang – Leuwi Panjang Rp. 4000
Padalarang ke SMAN 1 Padalarang, Ojeg Rp. 5000
Gantungan – Padalarang, Angkut Kuning Rp.3000
Padalarang – Cimahi, Angkot Hijau Padalarang – Leuwi Panjang Rp. 5000
Cimahi – Leuwi gajah, Angkot Ungu Cimindi – Cimahi Rp. 2000

Jakarta, 30 Mei 2014
#BoksiStory
Mengulas Kembali Catatan Menawan Gunung Bendera pada Rabu, 06 Maret 2013

6 Comments

  1. Chandra

    jalur kesitu lewat mana gan ?

    Reply
  2. mmFebi Gelar Ramadhan (Post author)

    ini perbukitan stone garden, cuman orang-orang sekitar dulu bilangnya gunung bendera, jalurnya lewat perumahan diatas bukit SMAN 1 padalarang, masuk-masuk rumah warga gitu.

    Reply
  3. Audi

    Bisa via mobil ga?

    Reply
    1. mmBoksi Suryani (Post author)

      bisa om, paling parkirnya dikondisikan saja ke Pak RT atau pihak perijinan disana nya 🙂

      Reply
  4. Aria Fadilla

    Puncak bendera masih satu gunung sam stone garden ya kang atau bukan ?

    Reply
    1. mmBoksi Suryani (Post author)

      Masih sejajar masih satu adek kakak mungkin yah :3

      Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pulang pergi ke rumah dan perantauan, gunung dan pembaringan, perjalanan dan perpaduan, tertuliskan dalam pahit manis sebuah tulisan tak bertinta #BoksiStory