Riak Rindu Puncak Jawa Tengah

Riak Rindu Puncak Jawa Tengah

Penghujung akhir Ramadhanku kali ini terhadir sedih diantara bahagia yang ada, mendapat musibah diperjalanan ya mungkin dompet dan gadget yang seringkali aku pegang setiap hari nya kini sudah tak nampak lagi di genggaman, namun apalah daya bila sesuatu yang sudah tak ada masih kita sesalkan saja.

Dan kini hadir perjalanan ku di sebuah puncakan atap Jawa tengah, dengan rencana Tedi dan Iput yang akhirnya tak ikut sehingga aku dan para seniorku saja yang berangkat kala itu. Di dalam ular besi kami berjalan hingga sebuah statsiun dan mengantarkan kami ke daerah ramah yang memang kami idam-idamkan. Ya, Purwokerto. Sebuah kota dengan statsiun central awal perjalanan.

Saat kami turunpun ternyata tuan dan nyonya bertas besar lainnya yang mungkin sama tujuannya dengan kami turun beriringan dan saling menyapa satu sama lain hingga mobil carteran kami pun yang memisahkan.

Ditawari dengan harga Rp. 300 Ribu kami menerjang kota yang sedikit panas itu menuju basecamp Bambangan, sebuah daerah yang bertanah subur dan masih asri di sisi kota Purbalingga.

Hingga sampailah kami disana, dengan harga tiket Rp. 5000 kami sudah siap mendaki yang tentunya peralatan dan perlengkapan sudah kami siapkan sebelum-sebelumnya. Dengan harga tiket yang kami rasa murah dan tidak sekomersial gunung-gunung lainnya, kami rasa Gunung Slamet ini masih dalam pengelolaan yang baik, semoga bisa lebih dan lebih baik kedepannya.

IMG-20160720-WA0039Pendakian kali ini memang jadi akrab sama senior baru yaitu kang Alam, senior yang dulunya *keliatan galak eh gening please euy. Yasudah lah intinya dari siang kala itu kami berjalan beriringan pada jalan setapak kebun warga dengan santai dan memang slow banget.

Ketemu tempat enak dikit langsung teriak “rest” dan duduk kembali, maaf yah bukan karena kecapean sih cuman memang ingin menikmati perjalanan aja *HALASAN !!!!

Saya mulai lupa berapa jam pertama kami berjalan hingga sampai di warung sebelum POS 1 dan jajan dahulu disana, ya anggap saja isi pertamax plus dahulu sebelum lanjut kembali.

Berjalan dan berakhir ditanjakan sebelum POS 1, hingga kami terduduk kembali di POS 1 yaitu pos Gemirung, dan benar saja ternyata banyak warung yah, penolong buat teman-teman kalo kehausan dan males buka carier atau lainnya, wkwkwkwk

Setelah POS 1 langsung nanjak edun dan agak panjang juga memang, dengan stabilnya kami berjalan dengan posisi kang Alam selalu memimpin didepan, disusul teh Sinti, Saya, dan kang galih paling belakang. Melangkahkan kaki sedikit demi sedikit menuju dataran yang lebih tinggi hingga kami temukan sebuah sepi.

Dan hari berjalan menuju sore rintik hujan mulai nampak menerpa muka dan tubuh kami berempat, dan sebelum tanjakan seperti biasa kang Galih dan saya berhenti beberapa menit untuk menikmati udara sejuk *yaelah padahal cape. Dan mungkin teh sinti dan kang alam sudah sampai di POS 2. Dan memang saya rasa untuk range POS 1 dan POS 2 adalah rute paling jauh untuk jalur Slamet via Bambangan ini *kata orang ini mah

Karena sudah sore, dan rintik hujan mulai menerpa di POS 2 yaitu POS Walang. Dan saat kami sampai untuk sementara waktu kami bikin Tenda dahulu dan makan nasi uduk si Ibu warung di POS 2, dan bahan makanan kami gak gunakan lagi jadi tetep utuh. Untuk sekadar menghangatkan tubuh kami bercengkrama dan ngopi-ngopi hingga tak terasa sampai ke hari berikutnya *iyah ngecamp

Besoknya pagi sekali sekitar jam 9 kami melanjutkan perjalanan menuju POS-POS selanjutnya, dan memang banyak juga waktu istirahat yang kami gunakan, POS 3 Cemara, POS 4 Samarantu, POS 5 Pondok mata air. Banyak pendaki-pendaki yang kami temui memang di perjalanan dari mulai setelan KPOP sampai model seperti setelan kami *eaaaa dan obrolan-obrolan pun kadang ngaler ngidul untuk sekedar jadi obrolan penghibur lelah.

Di POS 5 kami refil air, dan saya dengan kang Alam turun ke bawah sumber mata air ya lumayan deket lah gak kayak sumber mani yang kayak di Kalimati nya Gunung Semeru.

Sempet memang ketemu sama beberapa orang Bandung yang mendaki, asli Cicadas, Cicaheum dan sekitarnya menjadikan jadi makin kampung halaman. Belum juga nyampe puncak udah ingin pulang aja da kita mah hahahaha

Dari pos 5 sampai POS 7 jalurnya mendaki dan menanjak terus, hingga ya lumayan lah kaki kita ikut bergetar selain hati yang bergetar ketika ketemu teteh cantik nan manis kala itu.

Di POS 7 yaitu Samyang Rangkah kami menginap kembali sebelum besok mendaki lagi ke puncaknya, katanya untuk pendakian puncak hanya diperbolehkan sampai Jam 10 pagi saja, dan karena kala itu kami sampai sudah sore jadi memutuskan untuk mendaki esok hari nya.

Bercengkrama dan semakin intim nya percakapan kita dari makanan kesukaan, hobi kegeraman dan seseorang yang selalu kami cita-citakan dalam pinangan *eaaaa

2 Tenda beratap tambahan Flysheet yang kami bentangkan, dengan kopi hangat dan makanan kecil sebagai teman perbincangan. Mengapa alam ini sepi bila hanya mendaki seperti ini ? tak harus banyak orang yang penting kita satu Visi dalam rindu dan hening sepi dikala sendiri atau teman-teman hadir menemani. Tak terlalu banyak hanya cukup seperti ini.

IMG-20160720-WA0006Esoknya, matahari menampakan eloknya menembus awan dan membangunkan kami, memang beberapa langkah jejak kaki telah kami dengar sebelumnya, saat mentari belum terbit dan kami masih tertidur lelap dalam pembaringan.

Dan pukul 7 kala itu kami berjalan kembali dengan hanya tas kecil yang kami bawa, hanya beberapa liter air dan sedikit makanan ringan yang kami bawa.

Lewat pos-pos yang terakhir yang jaraknya memang dekat namun nanjaknya gak nahan, POS 8 dan POS 9, daerah vegetasi terakhir sebelum puncak.

Disini kang Alam ngajak balap ternyata saudara-saudara. Memang karena kami hanya 4 dan jalur pun sudah jelas terlihat jadi saya dan kang Alam agak balap dikit ke puncak dan teh sinti sama kang galih katanya ntar nyusul aja dibelakang. Dan sialnya setelah beberapa menit berlalu kang Alam niggalin, dan my tuur keburu ngegeter dulluan, jadi weh harus dikit-dikit.

Hingga datang dan sampai ke puncak saya menyusul kang Alam yang sedang asyik berselfie ria *eoooh pisan.

Setelah dirasa cukup kaki ini masih kuat kembali, saya memutuskan turun kembali dan menyusul teh Sinti dan Kang Galih yang belum sampai kala itu. Teh sinti ternyata terpisah sama kang Galih dan sudah hampir sampai jadi saya turun sedikit lagi untuk menyusul kang galih untuk sekedar menyapa atau membantu membawakan tas kecilnya kala itu.

Mengapa saya kembali ? “Karena saya tahu ditinggalkan bukanlah hal yang menyenangkan” *eaaaaaaaaa

Setelah bertemu kang Galih dan kembali naik beberapa menit kemudian kami sampailah bertemu kang Alam dan Teh sinti yang lagi-lagi masih sibuk berselfie ria *yaelah hahahaha

Karena goodan sungguh menghanyutkan dan saya pun tergiur untuk menyoba kamera tablet yang saya bawa itu dan gitu weh pokoknya hahaha.

Dan seperti merasa bonus juga kebetulan kami adalah group satu-satunya diatas sana kala itu. Menambah hening sepi disana. Cuman walau langit sedang cerah-cerahnya dan harusnya panas, karena berada di puncak tertinggi jawa tengah angin dan hawa kala itu memang terasa lebih dingin sehingga kami tidak dapat lebih berlama-lama disana.

Setelah kurang lebih 1 jam disana kami pun turun dan menuju tenda kami di bawah di POS 7 untuk packing dan kemudian pulang.
Packing Beres dan kita pun pulang, nggak deng selfie dulu :

Ternyata perjalanan turun saya lebih suka daripada naik yah. Setelah perjalanan naik memerlukan waktu 2 hari untuk kami, untuk turun hanya beberapa jam saja ternyata. Yaelah bro -_- *maklum namanya juga pendaki santai *HALASAN !

Ketemu sama pendaki-pendaki yang turun juga dan si teteh kerudung manis yah, pendiem juga deuh pokoknya idaman sepertinya. Dan tujuan teh sinti pun nyari Aa gemes sepertinya tidak terwujud karena masih lebih Gemes saya daripada aa yang lain *eaaaa

Sampah pendakian di bawa turun ke basecamp bambangan, konsekuensi bayar 10kali lipat kalau nggak dibawa turun. Mandi bayar 5000 dan makan hanya belasan ribu aja.

Untuk kepulangan ke Bandung karena kita tak kebagian tiket kereta jadi mesti Naik Bis, dan kami nyarter mobil dari Basecamp bambangan ke terminal purwokerto 320Ribu untuk berempat.

Dan diterminal purwokerto kami berempat berpisah akhirnya, saya dan kang galih pulang ke Bandung, dan teh sinti serta ke kang alam ke jakarta kembali untuk kerja.

List keberangkatan kami :

Berangkat :
Statsiun Cimahi – Statsiun Purwokerto (Kereta)
Statsiun Purwokerto – Basecamp Bambangan (Carter Mobil)

Pulang :
Basecamp Bambangan – Terminal Purwokerto (Carter Mobil)
Terminal Purwokerto – Terminal Cicaheum (Bus Aladin)
Terminal Cicaheum – Batas Kota (Damri)
Batas Kota – Cimahi (Angkota Leuwi Panjang – Cimahi

Dan memang menurut saya ini transport paling mudah yang penting uangnya ada *terbilang mahal kalo sedikitan mah. Ya apalah daya untuk seorang pejalan seperti kita. Materi terkuras, Raga kelelahan dan waktu terbuang banyak untuk kegiatan seperti ini. Namun pengalaman tidak dapat dibeli, semoga bisa menjadi cerita manis yang suatu saat kita bisa kenang kembali. Terima kasih para senior yang telah memberi pengalaman berarti ini. Kang Galih, Teh sinti yang memang sering mendaki bersama, dan Kang Alam yang jadi senior baru yang enak diajak bercanda. Terima kasih.

Bandung, 25 Agustus 2016
Boksi Suryani

mm
Written by
Boksi Suryani
Join the discussion

Images not found. This may be a temporary problem. Please try again soon.

Instagram

Images not found. This may be a temporary problem. Please try again soon.

Boksi Suryani

⛰️ 6°46’36.5″S 107°35’02.9″E
✍️ Author #BoksiStory
👥 Co-Founder @cleo.outdoor
👣 Owner @lnx.gear