Surat Perpisahan STM

Surat Perpisahan STM

ilustrasi_surat_663_382Tak terasa kurang lebih 4 tahun saya terperangkap dalam pelukan sekolah tercinta ini yang dibilang sebagian murid lainnya penjara untuk orang yang tidak selaras dengan adat dan kebiasaannya. terdidik dari segi ilmu, sikap, serta budaya merasa beruntung bisa tertakdirkan bisa masuk ke sekolah yang di damba-damba murid lainnya dahulu ini.

Mungkin dulu kalau boleh diingat saya lebih memilih untuk ingin melanjutkan jenjang SMA di Asrama pesantren di dekat kampung saya dulu daripada harus tersiksa merantau seperti ini, tapi apa daya tekad orang tua sudah membulatkan supaya saya sekolah di sekolah yang dulu orang tua dan kakak saya dambakan tapi tak bisa masuk karena tes masuk yang sungguh sulitnya, dan memang saya rasakan dari sekian ribu orang yang daftar hanya beberapa ratus yang bisa mencicipi ilmu dan pelajaran disini setiap tahunnya.

Dahulu tiap shubuh untuk tes kesini beliau membangun saya untuk bersiap berangkat mendaftar kesini, dengan mempersiapkan syarat pendaftaran dan segalanya, beliau yang membiayai, beliau yang mengurusi dan beliau juga yang mengantarkan, sementara anaknya masih leha-leha tiap hari dengan bermain dan tak mempersiapkan bahkan untuk tes tulis dan teorinya sekalipun, tapi takdir berkata lain, akhirnya alhamdulilah tak tau kenapa saya bisa masuk di sekolah dambaan siswa lainnya ini dan menyisihkan beberapa ratus orang dengan 3 pilihan jurusan yang nilai semuanya dianggap lulus dalam tes.

Dan apalah arti anak kampung, yang tidak mempunyai niat, yang kurang berusaha, dan masih manja seperti ini, hanya bisa mengeluh merengek dan mengadukannya pada orang tua. Pergaulannya dulu sangat diragukan, makanya awal dulu-dulu sekolah serasa dikucilkan dan sering dicampakan. Disaat orang sedang asyik bercanda dan bermain hanya saya duduk di bangku belakang dan berdiam diri tanpa tau apa yang harus dilakukan.

Dan saat pelajaran pun, saat guru menerangkan saya lebih sering tertidur dan jarang untuk memperhatikan,  makanya teman-teman kelas saya sering menertawakan. Dulu teman saya terbatas, ya mungkin bisa dibilang hanya itu-itu saja, atau mungkin bisa dibilang kadang hanya teman saling sapa saja.

Dan kadang saya heran, ada apa dengan saya heran ?
Ada apa dengan saya ?
Apa bedanya mereka dengan saya ?
Jujur, sampai sekarang saya belum bisa menjawabnya.

Tapi, apa daya sudah saat nya kami seangkatan meninggalkan bangku-bangku sekolah kami, meninggalkan alat toolkit dan peralatan yang biasa kami pakai praktek, dan melepaskan atribut yang dulu kami pakai dan bangga-banggakan. Tapi teruntuk bapak ibu saya dirumah, dan bapak ibu guru saya disekolah pengorbanan dan pengabdian kalian tak akan pernah saya lupakan, dari mulai bapak ibu menyisihkan uang gaji nya untuk membayar kamar kost yang saya tinggali tiap bulan, memberi bekal jajan tiap minggu, membayar SPP tiap bulannya dan menyicil uang bangunan berjuta-juta sampai 4 tahun lamanya.

Terima kasih juga bapak ibu guru yang tak henti-henti lelahnya mengajarkan saya, membangunkan di tengah pelajaran dan membimbing khusus nya pelajaran yang sangat susah saya mengerti (Matematika, Fisika, Kimia,dll). Terima kasih teman kost’an saya dulu yang telah berbagi cerita bersama saya, kharis yang sering ngajak malas-malasan, panji yang rajin mengajarkan pelajaran, adit yang selalu ada disetiap butuhnya, si pemalesan candra yang tetap setia jadi saudara jauh disana, muzaki yang katanya lagi sibuk dengan Diplomanya dan mungkin yogi sama hadi yang sekarang bareng-bareng sedang sibuk-sibuknya diperantauan.

Terima kasih juga teman-teman sepenanggungan di Organisasi yang maaf bila saya terlalu banyak daftar di keanggotaan, terima kasih atas semua pelajarannya, untuk Fortek, OSIS SMKN 1 Cimahi, dan Forum Dienul Islam dimana iman islam saya di bentuk sedemikian rupa.

Dan untuk teman 1 perhimpunan saya yang bisa saya deskripsikan :
Napak badai itu bro :
N = niis, galau, resah, gundah, gulana na biasana sok karaleuweung
A = angkatan 21 Stampara nu teu loba jeung teu sakeudik (lumayan 13 orang saperjuangan)
P = pang haresena diaratur, tapi dipikanyaah, pang dipikacinta, tapi harayang maritiskeun da, cius
A = ari baju hararejo ge jiwa na kudu hejo, kanu duit ge hejo, sareng resep hunkue blink nu hejo !
K = Kepala Suku na ganteng pokokna, khalayak public kudu tau ieu mah (kudu)

B = boksi,upil,crotz,cupuz,tokke,arung,argo,abox,blink,napi,qobep,buyam,cekes !
A = anu garanteng gareulis anak rama ibuna, tapi teu ngelehkeun kepala sukuna *harusdiakui
D = Dunia leuleuweungan jeung jujurawitan na bro, moal aya,
A = aman sejahtera damai sentosa walau kapanggih remi keur batur upacara,
I = I love u pokokna ka napak badai mah,

425626_3522571345055_229442897_n
Napak Badai “DIKLATSAR”

Dan terakhir terima kasih pada teman-teman kelas saya selama 4 tahun, yang dahulu awalnya selalu mengucilkan saya, tak menganggap saya, dan tak memberikan saya lingkungan cukup nyaman untuk menimba ilmu, dan hanya tegaskan itu hanya AWALNYA, karena disana juga pribadi saya bisa terubah karenanya, jadi pribadi yang lebih bisa berbauh dari berkewan ria, bersama-sama.

IMG_1965
CANA “Isola”

Terima kasih untuk segalanya yang ada di STM, mungkin suatu hari nanti saya kan mengeluh dengan STM yang baru-baru nanti, saya kan merasa tak nyaman dengan sistem STM yang tak saya rasakan dulu saat saya bersekolah seperti alumni-alumni lainnya.
Terima Kasih STM, dan terima kasih.

Jakarta, 21 Juni 2014
#BoksiStory
Surat Perpisahan STM

mm
Written by
Boksi Suryani
Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Boksi Suryani

⛰️ 6°46’36.5″S 107°35’02.9″E
✍️ Author #BoksiStory
👥 Co-Founder @cleo.outdoor
👣 Owner @lnx.gear